Investasi Hijau dari GWK, Menanam Benih Kelestarian Lewat My Melali Community

DSCF2121
Ratusan siswa TK Bali belajar kelola sampah di GWK.

MANGUPURA-fajarbali.com | Mengawali tahun 2026 dengan semangat keberlanjutan, Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park resmi meluncurkan program edukasi lingkungan bertajuk “Green Movement”. Inisiatif ini merupakan bagian dari My Melali Community, sebuah platform kolaborasi yang dirancang GWK sebagai ruang inklusif bagi komunitas lokal dan pelaku kreatif. Dengan melibatkan ratusan siswa Taman Kanak-Kanak, kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen GWK dalam mengintegrasikan sektor pariwisata dengan edukasi moral bagi generasi mendatang.

Dalam pelaksanaannya, GWK tidak bergerak sendiri melainkan menggandeng mitra strategis yang ahli di bidangnya. Maggie Farm hadir memberikan perspektif unik mengenai pengolahan sampah organik melalui metode maggot. Dengan pendekatan yang interaktif dan menyenangkan, anak-anak diajak untuk melihat bagaimana limbah dapur dapat diubah menjadi sumber daya yang bermanfaat secara biologis. Edukasi ini bertujuan agar konsep pengelolaan sampah tidak lagi dianggap sebagai hal yang rumit, melainkan aktivitas yang aplikatif sejak usia dini.

Tak hanya sampah organik, persoalan plastik pun turut menjadi sorotan utama. Melalui kolaborasi dengan Get Plastik, para siswa diperkenalkan pada inovasi mutakhir yang mampu menyulap limbah plastik menjadi bahan bakar alternatif. Demonstrasi solusi berbasis teknologi ini bertujuan membuka wawasan peserta bahwa sampah plastik yang selama ini menjadi ancaman lingkungan, sejatinya memiliki nilai guna jika dikelola dengan cara yang tepat dan inovatif.

Direktur Operasional GWK Cultural Park, Ch. Rossie Andriani, menegaskan bahwa My Melali Community diposisikan sebagai titik temu antara pariwisata dan tanggung jawab sosial. "Kami percaya bahwa membangun kesadaran lingkungan sejak dini merupakan investasi penting untuk masa depan yang lebih berkelanjutan. Kami menekankan bahwa GWK ingin melampaui fungsinya sebagai destinasi wisata ikonik, yakni menjadi ekosistem yang memberikan dampak positif dan nyata bagi masyarakat luas,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Unwar dan KUB Simbar Segara Kolaborasi Jaga Mangrove

Ke depannya, My Melali Community diproyeksikan tidak hanya terpaku pada isu lingkungan atau tajuk “Green Movement” semata. GWK membuka pintu kolaborasi seluas-luasnya bagi berbagai komunitas, mulai dari seni, budaya, hingga teknologi, untuk berbagi ilmu dan ide di kawasan ini. Visi besarnya adalah menciptakan wadah yang dinamis di mana setiap elemen masyarakat dapat berkontribusi dalam menciptakan program-program edukatif yang inspiratif.

Menutup rangkaian acara, Rossie kembali mengundang para penggiat komunitas untuk bergabung dalam ekosistem My Melali. Dengan semangat gotong royong, diharapkan akan muncul inisiatif-inisiatif baru yang tidak hanya memperkaya konten pariwisata di Bali, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial dan lingkungan. Perjalanan di awal 2026 ini barulah sebuah permulaan dari rangkaian panjang kolaborasi yang akan terus bertumbuh dan memberikan nilai tambah bagi Pulau Dewata. (M-001)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top