Golkar Bali Minta Maksimalkan Program Simantri Yang Berubah Jadi Sipadu

DENPASAR-fajarbali.com | Selama kepemimpinan Gubernur Bali sebelumnya yakni Made Mangku Pastika telah melahirkan beberapa program-program yang pro rakyat. Salah satunya Sistem Managemen Terintegrasi (Simantri).


Selama dua periode Made Mangku Pastika dari tahun 2009-2018 tersebut setidaknya telah menghabiskan anggaran sekitar Rp. 1,5 Trilyun lebih dengan menghasilkan terbentuknya  752 kelompok Simantri tersebar diseluruh kabupaten kota di Bali. Diketahui, setiap kelompok Simantri digulirkan bantuan sebesar Rp. 200 juta yang dimanfaatkan untuk pembangunan kandang ternak dan bibit ternak sapi.

Namun belakangan, keberadaan Kelompok Simantri sudah tidak terdengar lagi. Bahkan, program Simantri tersebut berubah menjadi Sistem Pertanian Terpadu. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua DPRD Bali sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Bali I Nyoman Sugawa Korry, Minggu (11/07/2021).

Sugawa Korry menilai, kelompok Simantri saat ini mendapat dukungan, pembinaan, serta bantuan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali. Sehingga mampu memberdayakan kalangan peternak dan petani.

“Ide dan kebijakan ini, sangat bagus, apalagi diintegrasikan dengan  upaya untuk meningkatkan produktifitas peternak dengan  penghasilan tambahan melalui produksi pupuk organik serta diintegrasikan dengan strategi mendukung mewujudkan Bali sebagai pulau organik,” kata Sugawa Korry.

Baca juga :
Komitmen Wujudkan Zona Integritas WBK dan WBBM, Sekda Adi Arnawa Tandatangani Perjanjian Kinerja
PPKM Darurat di Klungkung Diperketat, Polres Klungkung dan TNI Bagikan Vitamin serta Sembako
 

Saat masih berjalan, program Simantri terus melahirkan kelompok baru. Sehingga mampu melibatkan 200 lebih tenaga penyuluh untuk memberikan pembinaan kepada para kelompok. Harapannya, supaya bisa memberikan kesejahteraan bagi para petani.

Akan tetapi, saat ini banyak kelompok-kelompok Simantri yang sudah tidak beroperasi lagi. Dari hasil pengecekan dilapangan, banyak kelompok Simantri berganti nama menjadi Sipadu (Sistem Pertanian Terpadu) masih aktif dibawah pembinaan UPTD Sipadu. Namun, kondisinya sudah berbeda jauh dengan Simantri sebelumnya.

“Kita cek dilapangan,  kondisinya sudah jauh berbeda, kalau dulu ada 200 tenaga penyuluh, tetapi sekaranh hanya tinggal 20 personil saja,” tandasnya.

Padahal, kata Sugawa, apabila dikembangkan dengan baik tentunya akan menjadi hasil positif. Artinya, mampu meningkatkan kesejahteraan para peternak melalui usaha ternak sapi, dan produksi sampingannya serta diintegrasikan dalam konteks mewujudkan Bali sebagai pulau organik. Menurutnya, produk yang dihasilkan oleh para kelompok Simantri seperti kotoran sampi diolah pupuk organik, urine dari ternak sapi juga diolah menjadi pupuk sangat bermanfaat.

Maka dari itu, dirinya agar program Simantri yang saat ini berubah menjadi Sipadu bisa dimaksimalkan kembali oleh Pemprov Bali.

“Sudah  tentu sangat tidak tepat kalau Simantri atau Sipadu ini, tidak ditangani secara maksimal,” pintanya.

Selain itu, dari hasil pengecekan yang dilakukannya di sejumlah Kelompok Simantri di Desa Gerogak, Buleleng, sebagai Ketua Partai di Bali pihaknya telah memerintahkan para kadernya se-Bali untuk melakukan inventarisasi masalah dengan membentuk Tim Khusus.

“Kami telah membentuk tim khusus, melalui badan pembinaan dan pemberdayaan petani/peternak Golkar Bali. Sekarang sedang kami persiapkan rumusan masalah-masalah prioritas dan solusi pemecahannya.  Setelah PPKM Darurat ini kami akan terjun kelapangan,” tutup dia. (her)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Lampu Penerangan Jalan selama PKKM Darurat Dipadamkan

Kam Jul 15 , 2021
NEGARA-fajarbali.com | Penerangan Jalan Umum (PJU) di wilayah kota dipadamkan. Langkah itu upaya memperketat penerapan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat di Kabupaten Jembrana. Tak hanya PJU, lampu penerangan di tempat umum maupun penerangan di tempat-tempat strategis tempat berkumpul juga ikut dimatikan.