Festival “Dealing in Distance” Goethe-Institut Singgah di Bali, Angkat Isu Diaspora dan Identitas

Festival mini keliling bertajuk Dealing in Distance
Ilustrasi Festival mini keliling bertajuk Dealing in Distance. (Foto: © Là Hiếu)

Salah satu kurator festival, Wayan Sumahardika, menyebut program ini mengajak publik melihat Bali dari sudut pandang yang lebih kritis. “Dealing in Distance mengajak para seniman dan khalayak untuk membaca Bali bukan semata sebagai destinasi wisata yang paradisiakal, melainkan sebagai laboratorium sosial dan artistik tempat diaspora, sejarah, dan mobilitas terjalin. Berlatar pesatnya perkembangan pariwisata dan citra global Bali, program ini mengajukan pertanyaan kritis: adakah yang bisa disebut sebagai identitas Bali yang otentik?” ujarnya.

Melalui berbagai karya dan pertunjukan, para seniman Bali lintas generasi juga merespons dinamika perjumpaan antara pendatang dan masyarakat lokal di tengah globalisasi budaya, pariwisata massal, serta kerentanan sosial. Karya Before the Pulse Fails oleh Wayan Gde Yudane dan Putu Septa, misalnya, menghadirkan pengalaman sonik yang merekam ketegangan antara tradisi yang hidup dan risiko keterputusan.

Sementara itu, kolaborasi Don Rare Nadiana dan Wulan Dewi Saraswati dalam Mengguh Les: Exploring the Diversity of Flavors in Bali menjadikan rasa sebagai medium untuk menuturkan sejarah panjang peradaban Bali yang cair dan terus dinegosiasikan ulang.

Narasi diaspora Asia Tenggara juga dihadirkan melalui berbagai pertunjukan. Salah satunya Thelma and the Vixen karya Nelden Djakababa Gericke, sebuah performative reading yang mengangkat kisah perempuan Filipina paruh baya dalam menghadapi menopause, berkolaborasi dengan penyair dan penari Putri Minangsari serta komposisi suara oleh Bilawa Ade Respati.

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top