Empat Tahun InJourney, Membangun Pijakan Hijau bagi Masa Depan Pariwisata Indonesia

2026-01-21-at-21.43.43
Strategi InJourney 2026, menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian alam.

MANGUPURA-fajarbali.com | Memasuki tahun keempat kiprahnya di tanah air, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney terus memperkokoh posisinya sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata ini kini menempati urutan ke-43 perusahaan terbesar di Indonesia. Capaian tersebut bukan sekadar angka, melainkan buah dari inisiatif strategis yang mencakup transformasi bandara, peningkatan konektivitas udara, hingga pengembangan destinasi ikonik seperti Borobudur, TMII, serta Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur.

InJourney membawa visi besar bertajuk "InJourney 4 Tahun Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia". Melalui tema ini, perusahaan menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjadi entitas pencipta nilai bisnis (value creator), tetapi juga agen pembangunan (agent of development). Keseimbangan ini diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan, di mana setiap langkah bisnis dirancang untuk memberikan dampak positif jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Komitmen terhadap keberlanjutan kini menjadi urat nadi dalam setiap kebijakan InJourney. Perusahaan meyakini bahwa kejayaan pariwisata Indonesia di masa depan bergantung pada kemampuannya menjaga ekosistem alam. Melalui visi "Sustainable Tourism Economy and Creating Impact for Communities", InJourney mengintegrasikan perlindungan lingkungan ke dalam strategi bisnis inti, memastikan bahwa setiap pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan turut memperkuat komunitas lokal.

Direktur SDM dan Digital InJourney, Herdy Harman, menekankan bahwa aspek manusia merupakan inti dari setiap transformasi. Menurutnya, pembangunan fisik seperti infrastruktur tidak akan lengkap tanpa menyentuh aspek esensial yaitu sumber daya manusia. “InJourney pun meluncurkan green initiative program di seluruh lingkungan grup untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang ramah lingkungan, konsisten, dan terukur dampaknya,” ujarnya.

Dalam aspek lingkungan, InJourney menetapkan target ambisius untuk menurunkan emisi sebesar 4.000 ton CO₂e sebagai bagian dari penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG). Langkah ini merupakan wujud dukungan nyata terhadap target Net Zero Emission yang dicanangkan Pemerintah Indonesia. Transformasi operasional menuju praktik yang lebih hijau diharapkan mampu menjadikan Indonesia sebagai rujukan pariwisata bertanggung jawab di mata dunia.

BACA JUGA:  Peneliti Siapkan Peta Jalan Riset dan Konservasi Spesies Migrasi Jantung Segitiga Terumbu Karang

Salah satu bukti nyata keberhasilan strategi ini terlihat di kawasan The Nusa Dua, Bali, yang dikelola oleh InJourney Tourism Development Corporation (ITDC). Kawasan ini telah mengimplementasikan berbagai utilitas hijau, mulai dari pengelolaan limbah terintegrasi hingga penggunaan air daur ulang. Inisiatif ini bertujuan untuk menjadikan The Nusa Dua sebagai destinasi premium yang tidak hanya mewah, tetapi juga memiliki daya tahan (resiliensi) tinggi terhadap perubahan iklim.

Direktur Operasi ITDC, Troy Warokka, menyatakan bahwa keberlanjutan adalah fondasi operasional mereka. Salah satu terobosan besar yang dilakukan adalah pengoperasian fasilitas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO). “Teknologi ini memungkinkan pengolahan air laut menjadi air bersih, sehingga secara signifikan mengurangi ketergantungan pada air tanah yang kian terbatas, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem tawar di wilayah Bali,” ucapnya.

Dalam tiga bulan terakhir, fasilitas SWRO di Nusa Dua telah memproduksi lebih dari 331 ribu meter kubik air bersih. Saat beroperasi secara penuh, fasilitas ini diproyeksikan mampu memasok hingga 1,3 juta meter kubik air per tahun. Kehadiran teknologi ini menjadi solusi konkret dalam menghadapi risiko kelangkaan air akibat perubahan iklim, sekaligus menjamin stabilitas operasional bagi seluruh penyewa dan wisatawan di kawasan tersebut.

Pencapaian ini semakin istimewa karena ITDC Nusantara Utilitas (ITDC NU) menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang memperoleh izin resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mengolah air laut menjadi air layak konsumsi. Pengakuan ini menegaskan bahwa inovasi teknologi yang dikembangkan InJourney Group telah memenuhi standar keamanan dan kualitas yang ketat dari regulator pemerintah.

Direktur Utama ITDC Nusantara Utilitas, Anak Agung Istri Ratna Dewi, menjelaskan bahwa penerapan SWRO adalah langkah nyata dalam memperkuat ketahanan air tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. “Dengan pasokan air yang stabil dan terukur, efisiensi layanan di kawasan dapat terjaga pada level tertinggi. Hal ini membuktikan bahwa operasional bisnis skala besar dapat berjalan selaras dengan etika perlindungan alam,” jelasnya.

BACA JUGA:  HARRIS Hotel dan YELLO Hotel Bersihkan Mangrove Last Point, Wujud Nyata Kepedulian Lingkungan di Bali

Melalui Sarinah, InJourney juga terus mendorong produk lokal dan karya terbaik bangsa ke panggung internasional. Sinergi lintas portofolio ini menciptakan rantai nilai yang solid dari hulu ke hilir. Keberhasilan transformasi ini diharapkan dapat terus meningkatkan kontribusi InJourney terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional serta memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di kancah global.

Menapaki masa depan, InJourney berkomitmen untuk terus menjadikan pariwisata sebagai investasi lintas generasi. Dengan pijakan hijau yang kuat dan sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, InJourney optimis mampu membawa Indonesia menuju era baru pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan mendunia, demi kesejahteraan rakyat Indonesia dari masa ke masa. (M-001)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top