Diduga Dampak Semburan Belerang Pedagang Jair Pasar Kidul Keluhkan Dagangan Tak Laku

Bangli- fajarbali.com | Dampak semburan belerang yang telah menyebabkan kematian ikan terjadi secara sporadis di Danau Batur, turut berimbas kepada para pedagang ikan mujair di Pasar Tradisional Bangli.



Pasalnya, selain akibat daya beli masyarakat yang menurun. Masyarakat juga mulai enggan mengkonsumsi ikan dari Danau Batur karena khawatir kandungan belerang didalamnya.

Jro Warni (35) salah seorang pedagang ikan di Pasar Kidul, Bangli, Selasa (3/8/2021) mengakui semenjak terjadinya semburan belerang yang menyebabkan puluhan ton ikan mati di Danau Batur, turut berimbas pada daya beli masyarakat.

Baca Juga :
Tambahan Kasus Positif Bertambah Lagi, 13 Desa Ditetapkan Zona Merah
Rapat Paripurna, Bupati Tamba Sampaikan Ranperda RPJMD

“Kalau sebelum terjadi semburan belerang, daya beli masyarakat sangat tinggi. Jam 11 .00 wita, biasanya dagangan saya sudah habis terjual. Namun sejak beberapa hari terakhir, hingga sore dagangan ikan saya hanya sedikit yang laku,” ucap pedagang asal Kintamani ini.

Disampaikan, turunnya daya beli masyarakat karena banyak pembeli mengira ikan yang dijualnya di pasar  diambil dari ikan yang  mati akibat  keracunan belerang.

“Sejak  beberapa hari setelah ada kematian ikan di Danau Batur, pemasaran ikan sangat lesu. Ini tentunya berimbas pada pendapatan kita,” ujarnya.

Sementara disinggung soal harga, kata sejumlah pedagang yang berjualan di bagian timur Pasar Kidul, Bangli, sejatinya masih stabil. Dimana, sekilo ikan nila dijual dengan harga Rp 24  ribu untuk jenis ikan kecil. Sedangkan untuk ikan ukuran sedang dijual seharga Rp 28 ribu per kilo dan ukuran besar dijual Rp 30 ribu per kilo.

“Sampai saat ini, harga ikan masih normal. Hanya saja, pembelinya yang sepi,” keluh pedagang lainnya.

Secara terpisah Kadis PKP Bangli I Wayan Sarma mengatakan dari survey yang dilakukan di tiga pasar tradisional di Kabupaten Bangli harga ikan masih stabil, di kisaran Rp 28 ribu.

“Harga ikan nila dari survey yang kita lakukan masih stabil,”katanya.

Hanya saja, untuk daya beli masyarakat diakui mengalami penurunan. Hal ini lanjut Kadis asal Tembuku ini, kemungkinan lantaran pengaruh ekonomi global. Dimana, ditengah pandemi covid 19 ini berpengaruh pada pendapatan masyarakat, yang tentu berujung pada daya  beli masyarakat.

“Ditengah pandemic seperti sekarang ini, masyarakat lebih fokus pada pembelian kebutuhan pokok,”kilahnya.

Sebut Sarma lagi,  menurunya penjualan ikan oleh pedagang kemungkinan juga disebabkan oleh banyaknya umat di Bangli yang melaksanakan upacara. Karenanya, warga banyak membeli daging non ikan seperti ayam maupun babi.

“Saya kira penurunan penjualan ikan bukan sebagai imbas banyaknya ikan mati di Danau Batur akibat semburan belerang,” tandasnya.

Sekedar mengingatkan, semburan belerang di Danau Batur telah terjadi sejak tiga pekan terakhir secara beruntun. Dampaknya, sesuai catatan Dinas PKP Kabupaten Bangli sekitar 25,9 ton bangkai ikan telah berhasil dievakuasi.

Jumlah tersebut, diperkirakan semakin bertambah lantaran masih banyak bangkai ikan yang belum bisa dievakuasi karena kendala tempat pembuangan. Akibatnya, ribuan bangkai ikan masih dibiarkan terdampar di perairan sehingga sempat dikeluhkan warga karena dikhawatirkan menyebabkan pencemaran danau Batur. (ard)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

BOR Dua Rumah Sakit Di Bangli Nyaris Overload

Sen Agu 9 , 2021
Bangli- fajarbali.com | Meski Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level IV terus diperpanjang, nyatanya belum bisa menurunkan angka kasus penyebaran Covid-19 di Kabupaten Bangli.