Bukan Batik Biasa! Sasambo Titip Pesan Rawat Persatuan Bangsa

Samsir 1

FOTO: Samsir, pemilik Batik Sasambo, di Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah, menjelaskan makna dari motif batik ciptaannya, di sela menerima kunjungan pimpinan PT. Telkom Tbk.

 

LOMBOK TENGAH – sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com | Sembari memegang batik bergambar cabai rawit, Samsir dengan nada menggebu menjelaskan makna filosofis di balik motif ciptaannya itu. Batik bukan sembarang batik. Ratusan gambar cabai itu ternyata mengandung makna “besopok” dalam bahasa Sasak. Besopok artinya persatuan antar-suku yang hidup di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pada lembaran batik lain yang berlatar hijau, Samsir juga menggambar dengan tegas Bale Balak, Lumbung dan Kembang Sentani. Bale Balak merupakan ciri khas Dompu dan Bima, Lumbung merepresentasikan kebudayaan Lombok, sedangkan Kembang Sentani melambangkan Sumbawa.

Lewat kerajinan batik, pria asal Yogyakarta yang menikahi perempuan Lombok ini, ingin mengirimkan pesan agar ketiga suku yang ada di NTB, yakni Sasak, Samawa [Sumbawa] dan Mbojo, senantiasa merawat persatuan. Jangan sampai terpecah-belah, apalagi ia pernah mendengar isu bahwa Sumbawa ingin memisahkan diri dari NTB.

Samsir menjelaskan, telah menekuni kerajinan batik sejak tahun 1980-an, tepatnya usai menamatkan pendidikan seni rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Keterampilan membatiknya diterapkan di tanah kelahirannya, Yogyakarta, sebelum akhirnya di tahun 1991, seorang pengusaha mengajaknya pindah ke Lombok untuk memulai usaha batik.

Perjalanan panjangnya di dunia batik membatik berlanjut. Di tahun 1998, Samsir memulai usahanya secara mandiri. Idenya pun muncul dengan menonjolkan motif khas NTB. Kemudian di tahun 2010, batik Sasambo diluncurkan perdana.

“Saya pindah ke Lombok dan membuat batik khas NTB sejak tahun 1991. Usaha saya dengan bos [orang yang mengajak saya] berjalan lancar sebelum ada tragedi bom Bali 1 tahun 2002. Usaha ini terus saya tekuni sampai sekarang secara mandiri. Istri saya orang NTB. Saya sangat mencintai NTB,” jelas Samsir, di lokasi usahanya, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Selasa (1/10/2024).

BACA JUGA:  Dinas Sosial Karangasem Apresiasi Yayasan Dharma Sedana Santhi

Saking cintanya pada persatuan NTB, ia menamakan usahanya Batik Sasambo, akronim dari tiga etnis NTB, yakni Sasak, Samawa dan Mbojo. Usahanya terbilang maju.

Salah satu indikatornya, usaha Batik Sasambo milik Samsir pernah mendapatkan bantuan sekaligus pembinaan dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. atau Telkom. Telkom adalah badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di bidang layanan teknologi informasi dan komunikasi serta telekomunikasi digital di Indonesia.

Sebelum dialihkan ke perbankan BUMN dengan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR), Telkom diperkenankan mengucurkan modal untuk pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Samsir pernah menikmatinya. Hingga saat ini, hubungan baik dengan Telkom masih terjaga, salah satunya dengan pendampingan digitalisasi untuk kemajuan usaha.

Berkat komitmen tentang kesenian batik, Samsir menjadi inspirator lahirnya jurusan/ekstra Batik di Sekolah Menengah Kejuruan atau SMKN 5 Mataram. Samsir juga berkali-kali dipercaya menjadi ‘guru tamu’ untuk mengajar peserta didik di sana.

“Saya sering memberi story telling di SMK 5 [mataram-red] tentang batik. Minat anak-anak menekuni batik cukup antusias,” ungkap Samsir sembari memperbaiki peci hitam di kepalanya.

Usahanya Batik Sasambo milik Samsir, juga berhasil membuka lapangan kerja bagi warga sekitar, utamanya ibu-ibu. “Tapi banyak yang enggak tahan. Kerja sebentar sudah enggak kuat. Karena membatik perlu kesabaran,” imbuh Baiq Sanip, istri Samsir.

Kini, hanya ada beberapa pekerja perempuan yang bertahan membatik. Kedua anak Samsir pun, memilih jalan berbeda alias enggan meneruskan usaha orangtuanya. Meski demikian, Samsir dan Baiq tetap berkomitmen mewariskan keterampilan membatik kepada siapa saja yang mau.

Perkembangan parisiwata NTB, terlebih dengan dibangunnya Sirkuit Internasional Mandalika, sejatinya memberi harapan baru pada sektor UMKM, tak terkecuali batik. Samsir sendiri merasakan dampaknya. Penjualan lembar-lembar batik khas NTB ciptaannya kian meningkat di sejumlah pusat oleh-oleh.

BACA JUGA:  UPMI Gembleng Karakter Mahasiswa Barunya

Lebih lanjut, Samsir tidak merasa khawatir dengan kompetitor produsen batik dengan mesin. Dia juga tidak takut motif ciptaannya dibajak orang. “Saya tetap mempertahankan metode tradisional dan dengan bahan-bahan alami. Nanti konsumen sendiri yang menilai,” jelasnya.

Samsir membanderol produknya secara variatif, tergantung motif dan proses pengerjaannya. Misalnya untuk selembar kain batik berukuran 120 x 250 cm, dibanderol sekitar Rp500 ribu rupiah. Untuk mendapatkan kualitas terbaik, pihaknya juga melakukan ritual puasa sebelum mengawali proses membatik.

Scroll to Top