Bantu Paramedis, Prajurit Kodim 1626/Bangli Digembleng Pelatihan Penggunaan APD

BANGLI – fajarbali.com | Dalam upaya membantu para medis sebagai garda terdepan penanggulangan penyebaran Covid-19 di Kabupaten Bangli, jajaran prajurit Kodim 1626 Bangli juga digembleng dengan pelatihan cara penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang baik dan benar. Pelatihan dilaksanakan di Lapangan Markas Kodim 1626 Bangli dengan melibatkan dua pelatih dari petugas medis RSU Bangli, Rabu (22/04/2020).

 

Pelatihan penggunaan APD diberikan mengingat, dalam Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Kabupaten Bangli, posisi Kodim Bangli sebagai Wakil Ketua. “Dalam hal ini, kodim memilik peran penting dalam upaya penanganan virus tersebut,” ungkap Dandim 1626/Bangli Letkol Inf Himawan Teddy Laksono ditemui disela-sela pelatihan tersebut.

Dalam hal ini, ditekankan, hal yang paling penting dalam program tersebut adalah tenaga kesehatan sebagai garda terdepan. Untuk itu pihaknya berupaya membantu para tenaga medis Bangli dengan mengerahkan 72 prajuritnya. “Mereka diberikan pelatihan khusus bagaimana cara menggunakan APD yang benar termasuk saat melepasnya ketika bertugas di desa-desa membantu Satgas desa di Bangli,” ungkapnya.

Karena itu, pelatihan pemakaian APD yang baik dan benar penting diketahui oleh para prajurit lantaran sewaktu-waktu tenaganya bisa dibutuhkan untuk mengevakuasi atau membantu masyarakat yang terpapar Covid-19. “Selama ini Babhinsa kami kan tidak tahu bagaimana cara menggunakan APD yang benar. Lantas bagaimana cara membantu petugas medis ketika ada warga di Bangli di desa yang kena virus ini. Karena itulah perlu ada pelatihan khusus terkait hal itu,” ujarnya.

Selain itu, dengan pelatihan tersebut juga diharapkan bisa memberikan keamanan pada anggota prajurit yang bertugas di desa mengingat virus ini merupakan mikroorganisme yang dalam kondisi tertentu dapat menempel dimana-mana.

 

Sementara salah satu pelatih penggunaan APD dari RSU Bangli, Putu Arsila mengatakan pelatihan yang diberikan yakni penggunaan APD level III cover all (menutup seluruh tubuh). Dalam pemakaian APD ini, maksimal digunakan empat jam.  Kata dia, selama menggunakan ADP tersebut selama empat jam itu tidak boleh makan dan minum. Selain itu, kondisi tubuh berkeringat apalagi berada di ruangan dengan tekanan negatif tanpa pendingin. “Dari pengalaman saya pribadi, maksimal pakainya empat jam. Lebih dari itu sudah tidak kuat, karena dehidrasi di dalam. Keringat sudah banyak,”jelasnya.

Lantas seberapa jaminnya dengan APD ini si pengguna tak tertular? Ditanyakan demikian Arsila memastikan aman jika APD yang dipakai sudah standar WHO. Selain cara menggunakan, tahapan demi tahapan cara melepas APD juga sangat penting. Sebab, lanjut dia, justru saat melepasnya jauh lebih penting karena si pengguna sudah melakukan kontak dengan si penderita. “Karena itu, penting untuk diketahui jika tata cara menggunakan dan melepasnya dilakukan secara benar dan sesuai standar, nisyaca aman bagi penggunanya,” tandas Arsila. (arw)  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Pasien Meninggal Di RSU Bangli Ditangani Dengan SOP Covid-19, Ini Penyebabnya…

Rab Apr 22 , 2020
BANGLI – fajarbali.com | Seoarang pasien yang meninggal di RSU Bangli mendapat penanganan jenazah dengan SOP penanganan Covid-19. Hal tersebut dilakukan, lantaran yang bersangkutan saat dirapid test awalnya hasilnya positif corona. Namun setelah dilakukan Swab test sebanyak dua kali hasilnya negative. Meski demikian, penanganan jenazah tetap dilakukan dengan SOP Covid-19, […]