DENPASAR-fajarbali.com | Kegiatan "Malajah Sambil Maplalianan" atau Belajar Sambil Bermain yang digelar dalam rangka Bulan Bahasa Bali VIII berhasil menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan dan ramah anak.
Puluhan siswa Sekolah Dasar (SD) tampak antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan, belajar tanpa tekanan, berani berpendapat, aktif bertanya, dan berebut mencoba praktik yang diberikan.
Kegiatan bertema belajar sambil bermain literasi numerasi dan budaya ini dilaksanakan pada Senin, 2 Februari 2026, dan diikuti sekitar 35 anak SD dari berbagai wilayah di Kota Denpasar. Narasumber kegiatan berasal dari Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, yakni Dr. Gek Diah Desi Sentana, SS., M.Hum. dan Ni Nyoman Tri Wahyuni, S.Pd., M.Pd.
Pembelajaran diawali dengan mesatwa atau bercerita, mengangkat kisah rakyat Bali Men Iwas lan Men Sugih. Cerita ini disampaikan secara interaktif untuk membangkitkan rasa senang dan ketertarikan anak-anak. Meski disampaikan santai, para peserta mampu mengenali karakter tokoh, alur cerita, hingga menangkap pesan moral yang terkandung di dalamnya.
Selanjutnya, anak-anak diperkenalkan pada berbagai jenis bebungkilan atau umbi-umbian yang biasa digunakan sebagai bumbu dapur tradisional Bali. Empat jenis bebungkilan dikenalkan secara langsung, yakni jae (jahe), isen (lengkuas), kunyit (kunir), dan cekuh (kencur). Anak-anak tidak hanya melihat gambar, tetapi juga mencocokkannya dengan bentuk asli, mengenali warna, aroma, serta manfaatnya.
Pembelajaran berlanjut dengan pengenalan perubahan daun kelapa dan fungsinya dalam kehidupan masyarakat Bali, mulai dari busung, rempela, slepan, hingga danyuh. Dari sini, anak-anak diajak memahami konsep literasi budaya sekaligus literasi numerasi secara sederhana dan aplikatif.
Contohnya, dalam pembuatan segehan mebucu telu, anak-anak belajar dasar numerasi melalui pemahaman jumlah dan bentuk. Begitu pula saat membuat ceper, mereka dikenalkan konsep bujur empat. Anak-anak diberikan bahan berupa busung dan slepan untuk dirangkai menjadi ceper, sekaligus memahami fungsi masing-masing bagian, seperti busung untuk metanding canang, rempela untuk bahan segehan, slepan untuk membuat aled, dan danyuh sebagai obor.
Selain itu, peserta juga dilatih membuat tipat taluh dan mengikuti permainan tradisional Keranjang Duren sebagai penutup kegiatan.
Kepala Bidang Sejarah dan Dokumentasi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Made Dana Tenaya, mengatakan kegiatan Malajah Sambil Maplalianan merupakan program ramah anak yang telah dilaksanakan untuk kedua kalinya dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali.
“Tahun lalu kegiatan ini hanya bisa dilaksanakan tujuh kali. Tahun ini dilaksanakan setiap hari selama satu bulan penuh dengan melibatkan anak-anak dari berbagai sekolah dan menghadirkan narasumber dari perguruan tinggi serta tokoh budaya,” ujarnya.
Menurut Dana Tenaya, manfaat kegiatan ini sangat besar karena anak-anak belajar budaya tidak hanya secara teori, tetapi langsung melalui praktik. “Mereka belajar sambil bermain, belajar sambil melakukan,” katanya.
Sementara itu, Dr. Gek Diah Desi Sentana mengungkapkan antusiasme peserta sangat tinggi. Di awal kegiatan, anak-anak belum membayangkan bahwa belajar budaya bisa dilakukan dengan cara yang ringan dan menyenangkan.
“Awalnya mereka tidak terbayang, tetapi setelah mengikuti kegiatan ini mereka sangat senang. Saat mesatwa, kami selipkan lelucon dan pertanyaan agar mereka tetap fokus dan mampu mengingat tokoh, alur, serta pesan cerita,” jelasnya.










