Lalat Buah Menjadi Tantangan Pertanian di Kintamani, Unud Hadirkan Teknologi Murah dan Ramah Lingkungan 

IMG-20260811-WA0022
Rektor Unud dan tim peneliti bersama instansi terkait turun langsung meninjau implementasi teknologi pengendalian hama lalat buah berbasis atraktan alami dan perangkap di Desa Belancan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Sabtu (8/8/2026). [foto: Unud/dok]

BANGLI-fajarbali.com | Populasi lalat buah di kawasan Kintamani, Bangli menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian. Selain itu, citra pariwisata bisa tercemar jika populasi lalat tidak ditangani secara serius. 

Universitas Udayana atau Unud, sebagai institusi pendidikan tinggi, terus memperkuat komitmennya sebagai Kampus Berdampak melalui riset dan inovasi yang menjawab persoalan nyata masyarakat.

Salah satunya diwujudkan melalui implementasi teknologi pengendalian hama lalat buah berbasis atraktan alami dan perangkap di Desa Belancan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Sabtu (8/8/2026).

Teknologi yang dikembangkan Tim Peneliti Fakultas Pertanian Unud ini menjadi alternatif pengendalian hama yang lebih efektif, ekonomis, dan ramah lingkungan dibandingkan penggunaan insektisida kimia sintetis.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Riset Strategis Institusi (RSI) Universitas Udayana yang didanai Unud untuk memastikan hasil penelitian dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Ketua Tim Peneliti, Prof. Dr. Ir. Dewa Ngurah Suprapta, M.Sc., menjelaskan bahwa lalat buah merupakan salah satu hama utama yang merusak berbagai jenis buah dan menjadi tantangan bagi petani, termasuk dalam menghasilkan produk hortikultura yang memenuhi persyaratan pasar ekspor.

Menjawab persoalan tersebut, menurutnya, tim mengembangkan kombinasi atraktan alami “Definol” dan perangkap “Jebags”. Definol menggunakan formulasi minyak cengkeh dan minyak pala yang mampu menarik lalat buah hingga jarak sekitar 2,5 kilometer sekaligus melumpuhkannya.

"Lalat yang lumpuh kemudian jatuh ke dalam air pada perangkap Jebags. Kedua produk tersebut telah didaftarkan untuk memperoleh hak paten," jelas Prof. Dewa Suprapta.

Teknologi ini mampu menangkap hingga sekitar 1.000 lalat buah per minggu pada wilayah dengan populasi tinggi. Penerapannya membutuhkan biaya sekitar Rp500 ribu per hektare, jauh lebih rendah dibandingkan penggunaan insektisida kimia yang dapat mencapai sekitar Rp3 juta per hektare.

BACA JUGA:  ACC Tanam 5.000 Mangrove dan Sokong UMKM di Kubu Raya

Implementasi dilakukan pada areal tanaman jeruk seluas sekitar 15–18 hektare di Desa Belancan dan luasan yang sama di Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Gianyar, dengan melibatkan mahasiswa KKN Unud.

Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari semangat Kampus Berdampak, yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat secara langsung.

Prof. Dewa Suprapta menambahkan bahwa pengendalian lalat buah akan lebih efektif jika diterapkan secara luas melalui konsep wide aerial management, minimal 200 hektare.

"Karena itu, pengembangan teknologi ini membutuhkan kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai pihak agar dapat diterapkan secara masif di Bali," tegasnya.

Rektor Unud, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D., menegaskan bahwa riset dan inovasi Unud harus berbasis pada persoalan masyarakat dan tidak berhenti di laboratorium maupun publikasi.

“Kita berharap riset-riset dan inovasi yang dilakukan benar-benar berbasis pada permasalahan yang dihadapi masyarakat, sehingga tidak berhenti di meja laboratorium atau publikasi, tetapi benar-benar berdampak dan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat,” kata Rektor Unud. 

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dr. I Wayan Sunada, S.P., M.Agb., menyambut baik inovasi tersebut yang dinilai sejalan dengan keamanan pangan dan ramah lingkungan.

Pemerintah Provinsi Bali, lanjut Sunada, juga mendorong keberlanjutan kolaborasi dengan Unud dalam pengendalian hama lainnya.

Melalui inovasi ini, Unud menunjukkan bahwa Kampus Berdampak bukan hanya tentang menghasilkan riset, tetapi memastikan pengetahuan, teknologi, dan keterlibatan mahasiswa hadir sebagai solusi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat serta dikembangkan secara berkelanjutan.* [gde]

 

 

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top