MANGUPURA-fajarbali.com | Menjelang H-1 Puncak Karya Agung di Pura Penataran Agung Pucak Mangu, digelar Upacara Wana Kertih, di hutan areal Puncak Mangu, Selasa (4/11/2025). Prosesi ini ditandai dengan melepas-liarkan seekor kijang dan bermacam-macam burung ke hutan sebagai habitat aslinya.
Pangarejeg Karya, Ida Cokorda Mengwi XIII, menjelaskan, Wana Kertih menjadi pelengkap rangkaian prosesi, mulai dari Segara Kertih di Segara Seseh, Badung dan Danu Kertih di Danau Beratan, Tabanan.
"Jika pada segara kertih dan danu kertih kita memakai wewalungan atau pakelem kerbau, kambing dan sebagainya. Sekarang (wana kertih) kita pakai kijang dan burung. Mereka dilepas ke hutan ini," jelas Ida Cokorda di sela prosesi.
Ida Cokorda menjelaskan, sebenarnya tujuan upacara ini sangat sederhana, sebagai pengingat, welas asih, penyelamat, dan dan melestarikan ekosistem alam beserta isinya. Itu dalam konteks niskala.
Ida Cokorda berharap, upacara keagamaan yang menelan dana cukup besar ini, diimbangi dengan upaya sekala oleh umat manusia. Caranya pun sederhana, yakni menjaga kebersihan lingkungan dan tidak menebang pohon sembarangan.
Ia berpendapat, akhir-akhir ini fenomena bencana alam sungguh memprihatinkan, seperti banjir. Hal itu merupakan alarm agar manusia kembali ke jati dirinya untuk bersatu dengan alam, sesuai prinsip Tri Hita Karana.
"Mari kembali ke filsafat Tri Hita Karana, yakni menjaga hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, hubungan harmonis manusia dengan alam, dan hubungan harmonis manusia dengan manusia," ungkapnya.
"Seperti filsafat Tri Hita Karana, kita harus lakukan itu. Saya selaku Pengerajeg Karya, melaksanakan rangkaian ngrastitiang jagat ini, agar ke depannya umat Hindu secara sekala dan niskala menjaga hutan serta alam lingkungannya," imbuh Ida Cokorda.
Ida Cokorda mengungkapkan, Karya Agung, Padudusan Agung, Tawur Balik Sumpah dan upacara suci lainnya tahun ini, terselenggaranya atas dana dari Pemerintah Kabupaten Badung di bawah Bupati Wayan Adi Arnawa. Anggaran untuk karya 15 tahunan ini berkisar Rp4 Miliar.
"Jadi kami dari Puri Ageng Mengwi sebagai Pangerajeg berkolaborasi dengan Pemkab Badung. Ada upakara-upakara tertentu yang bersumber dari puri. Proses rangkaiannya sangat panjang," jelasnya.
Pangabih Ida Cokorda Mengwi XIII, I Gusti Agung Gede Mangun Ningrat menjelaskan, Upacara Yadnya Wana Kertih dipuput oleh Ida Pedanda Gede Oka Watulumbang Manuaba (Griya Magelung Baha); Ida Pedanda Gede Giri Arimbawa Simpangan (Griya Simpangan Pelaga); Ida Pedanda Buddha Giri (Griya Gunung Sari Peliatan Ubud); dan Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Pancering Bhuwana (Griya Pancer Bhuwana Jimbaran).
Terkait puncak karya besok, pada Purnama Kalima, Rabu (5/11/2025), akan didahului berbagai prosesi sakral di Pura Pucak Mangu (atas). Utusan akan berangkat pukul 04.00 Wita. Jarak tempuh antara Pura Penataran dengan Pucak Mangu diperkirakan 4 jam.
"Ada salah satu dari depalan desa (pemaksan) yang ditugaskan ke puncak besok. Mereka melakukan berbagai rangkaian prosesi di atas. Prediksi kami tiba di penataran (bawah) jam 10," jelasnya.
Pada intinya, prosesi tersebut bertujuan "mendak" Ida Betara Pucak Mangu untuk turun ke Pura Penataran dalam bentuk Tirta sebagai "upasaksi" sekaligus menyelesaikan karya agung tersebut.
Pada puncak karya, masih kata Mangun Ningrat, digelar dua prosesi sekaligus, yakni piodalan rutin tiap kalima serta Karya Agung yang digelar 15 tahun sekali.










