Bukan Sekadar Proyek Pariwisata, Nuanu Tegaskan Komitmen dan Kontribusi Nyata di Bali

WhatsApp Image 2025-08-29 at 21.41.05_738d4416
Konferensi pers: Senior Legal Officer, Gede Wahyu Harianto (kiri) didampingi Brand & Communications Director sekaligus Head of the Nuanu Social Fund, Ida Ayu Astari Prada.

TABANAN-fajarbali.com | Menanggapi berbagai isu yang beredar, Nuanu Creative City mengadakan konferensi pers pada Jumat, 29 Agustus 2025. Konferensi pers ini dipimpin oleh Gede Wahyu Harianto, selaku Senior Legal Officer, dan Ida Ayu Astari Prada, Brand & Communications Director sekaligus Head of the Nuanu Social Fund. Acara ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Komisi I DPRD Bali bersama pemerintah daerah yang berlangsung sehari sebelumnya.

Dalam kunjungan tersebut, para wakil pemerintah daerah berkesempatan meninjau langsung perkembangan proyek Nuanu di Tabanan. Mereka memberikan respons yang konstruktif dan mengapresiasi upaya Nuanu dalam menjaga transparansi, mematuhi aturan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Bali. Gede Wahyu Harianto menyambut baik peran pengawasan DPRD ini, menekankan bahwa kunjungan tersebut menjadi kesempatan penting untuk menunjukkan kepatuhan dan komitmen Nuanu untuk membangun secara bertanggung jawab di Bali.

“Pada konferensi pers ini, Nuanu secara tegas membantah beberapa klaim yang beredar di masyarakat. Pertama, terkait perizinan, Nuanu menegaskan bahwa seluruh izin pokok dan persetujuan pembangunan maupun operasional sudah lengkap. Proses administrasi yang tersisa merupakan hal wajar untuk proyek skala besar dan terus dikoordinasikan. Nuanu menyebut klaim bahwa izinnya "tidak lengkap" sebagai informasi yang keliru dan tidak berdasar,” ungkap Wahyu Harianto.

“Kedua, Nuanu membantah tuduhan pembangunan di atas sawah yang dilindungi. Perusahaan menjelaskan bahwa seluruh kegiatan konstruksi dilakukan di lahan dengan sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) dan berada di zona pariwisata, sesuai dengan rencana tata ruang yang berlaku. Oleh karena itu, tuduhan konversi lahan pertanian adalah tidak benar,” sambung Wahyu Harianto di hadapan awak media.

Selain menanggapi isu perizinan dan lahan, Nuanu juga memaparkan kontribusi finansial dan sosialnya. Mereka menyebut telah membayar Pajak Hotel dan Restoran (PHR), menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat setempat, serta secara aktif menyelenggarakan program budaya dan pendidikan. Fokus utama kontribusi ini adalah Nuanu Social Fund (NSF).

BACA JUGA:  Pertama di Asia, Ennismore Hadirkan Hyde Hotel di Seminyak Bali

Sejak berdiri pada tahun 2023, NSF telah mengalokasikan total dana sebesar Rp 4,128 miliar untuk berbagai inisiatif komunitas. Dana ini disalurkan melalui lima program utama, yaitu Inisiatif Sosial, Acara Sosial, Dukungan Langsung, Dana Asa Kriya Open Call, dan Proyek Fokus. Program-program ini selaras dengan pilar komitmen Nuanu dalam bidang pendidikan, alam, kesehatan dan kesejahteraan, seni dan budaya, serta kehidupan berkelanjutan.

Dalam dua kuartal pertama tahun 2025 saja, NSF telah menunjukkan dampak yang signifikan. Program-programnya berhasil menjangkau 4.974 peserta melalui Acara Sosial, memberikan manfaat kepada 893 penerima melalui Dukungan Langsung, dan melayani 2.245 penerima manfaat melalui Program Dampak Sosial.

Ida Ayu Astari Prada menjelaskan bahwa NSF merupakan perwujudan keyakinan Nuanu bahwa pembangunan harus seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. "Ini bukan sekadar filantropi, melainkan cara Nuanu bertumbuh bersama Bali. Beberapa program andalan yang didanai NSF antara lain restorasi Pura Beji, dukungan untuk Timpal Hub, restorasi Gamelan Gambang, hingga program-program pemberdayaan petani dan kesejahteraan hewan," tegasnya

Selain itu, isu akses jalan juga menjadi sorotan. Nuanu menyatakan telah memperbaiki jalan dengan biaya sendiri, namun perbaikan permanen yang membutuhkan pembangunan saluran drainase menjadi kewenangan pemerintah. Nuanu menegaskan tengah berkoordinasi aktif untuk mencari solusi jangka panjang. Sebagai komitmen sosial dan budaya, Nuanu juga sedang merestorasi dua pura kuno yang berada di dalam kawasan.

Konferensi pers ini menegaskan posisi Nuanu sebagai contoh investasi yang bertanggung jawab di Bali. “Nuanu dibangun dengan keyakinan bahwa pembangunan bisa menghormati budaya, menjaga lingkungan, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Wahyu Harianto. Ia menambahkan bahwa kunjungan DPRD kemarin semakin menguatkan nilai-nilai tersebut, dan Nuanu akan terus berkomitmen untuk mewujudkannya. Puncak dari fase awal pengembangan ini akan ditandai dengan Grand Opening Fase Pertama pada 30 Agustus 2025, yang akan menampilkan berbagai acara seni, budaya, dan kolaborasi komunitas. (M-001)

Scroll to Top