Waspada Badai Sitokin, Peradangan yang Mengakibatkan Kematian di Masa Pandemi

Denpasar-sandybrown-gazelle-543782.hostingersite.com | Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung lebih dari setahun ini memunculkan berbagai istilah kedokteran yang semakin sering didengar oleh masyarakat, dimana istilah-istilah tersebut berkaitan dengan reaksi serangan Covid-19. Salah satunya adalah Badai Sitokin.

Dokter umum Rumah Sakit Surya Usadha Denpasar, dr. Danendra Danny Anggara menyebutkan, sebenarnya badai sitokin ini bukanlah nama sebuah penyakit, melainkan sindrom yang mengacu pada sekelompok gejala medis dimana sistem kekebalam tubuh mengalami terlalu banyak peradangan, akibatnya organ gagal berfungsi dan memicu kematian.

Baca Juga :
Dewan Usul Genjot Potensi Pajak Lokal, Pengusaha sebut Konsumen Juga Harus Disadarkan
Belum Tergarap Maksimal, Masih Miliki 35 Hektar Lahan Tidur, Bakal Dikelola dengan Pola Organik Dukung Puspa Aman


"Virus Covid-19 ini menyerang manusia dalam bentuk antigen, dan antigen ini memicu munculnya inflamasi (peradangan) dalam sistem imun kita. Karena mendapat serangan ini, sistem imun manusia akan berusaha untuk menghancurkan antigen tersebut, sehingga muncullah gejala penyakit yang bisa berupa demam, sakit seluruh badan, nyeri sendi pergelangan dan juga berupa gejala lokal seperti sakit tenggorokan, sesak nafas, meriang dan lain sebagainya," jelasnya, Rabu (19/5/2021).

Ia menerangkan, semakin hebat sistem imun seseorang dalam melawan kehebatan infeksi inilah yang memicu munculnya sindrom badai sitokin. Jika semakin berat peradangan yang terjadi, maka proses peradangan ini bisa menimbulkan efek ke seluruh organ tubuh, seperti peradangan pada jantung, ginjal, liver dan organ lainnya.

"Karena serangan inilah, menyebabkan kinerja jantung, ginjal menurun, pengentalan darah, kontraksi jantung melemah. Sedangkan pada ginjal akan memicu kegagalan ginjal mengatur keseimbangan cairan dan berbagai macam kegagalan organ ini bisa menyebabkan gejala memberat dan resiko kematian," terangnya.

Karena kondisi tersebut, dr. Danendra berharap jika ada kerabat yang terinfeksj virus Covid-19 meskipun sudah dinyatakan sembuh dan hasil pemeriksaan Swab/PCR menyatakan negatif, sebaiknya tetap melakukan konsultasi ke dokter, terutama untuk pemantauan pengentalan darah dan juga fungsi organ vital seperti jantung, paru dan ginjal. (dha)

BERITA TERKINI

TERPOPULER

Scroll to Top