JA Teline V - шаблон joomla Форекс

POLITIK
Typography

BANGLI-fajarbali.com | Jelang Pemilihan Bupati/Wakil Bupati (Pilbub) Kabupaten Bangli yang digelar serentak pada bulan September tahun 2020, sejumlah figure yang digadang-gadang bisa menuju Bangli satu terus bermunculan. Salah satunya, Mantan Ketua DPRD Bangli periode 2014-2019, Ngakan Made Kutha Parwata.

Nama dedongkot PDIP asal Desa Bangbang, Tembuku ini, sering disebut-sebut layak menjadi salah satu pemimpin Bangli ke depan. Dari sejumlah aspirasi yang disampaikan masyarakat dan warga net, Ngakan Kutha Parwata dikenal sebagai sosok yang sederhana, low profil dan bijaksana serta piawai bergaul. Bahkan selama kepemimpinannya di DPRD Bangli, selain disegani diinternal partainya juga disukai dari kalangan politisi lintas partai.

Ditemui pasca pelantikan DPRD Bangli periode 2019-2024, Senin (12/08) di Gedung DPRD Bangli, Ngakan Kutha Parwata yang batu saja mengakhiri masa jabatannya tersebut, kini mulai blak-blakan menyampaikan berbagai unek-uneknya. Bahkan saat ditanya soal aspirasi masyarakat yang menginginkan dirinya bisa maju memimpin Bangli, Ngakan Kutha Parwata mengaku siap meninggalkan partainya jika memang untuk kepentingan Bangli menjadi lebih baik.   

Awalnya saat ditanya kegiatan apa yang akan ditekuni pasca tidak menjabat, Ngakan Kutha Parwata mengaku akan mengembangkan usaha tani di kampungnya. “Ini namanya kita naik pangkat. Dari wakil rakyat menjadi rakyat, ya naik pangkat itu namanya. Iya, saya melakukan kegiatan lama. Salah satunya, usaha tani karena kita pulang kampung,” ungkap pria yang akrab disapa Gus Dek ini.

Namun sebagai orang politik, politik itu diakui tidak akan bisa lepas sepanjang ayatnya. “Bagaimana pun juga, kalau saya ngomong pensiun dari politik, tidak benar. Karena jiwa saya, sudah jiwa politik. Tapi karena sudah tidak duduk lagi distruktur partai, iya saya jadi lebih punya waktu sekarang,” ungkapnya. Karena itu, terkait aspirasi yang menginginkan dirinya bisa ikut tarung dalam Pilbub Bangli, diakui keinginan tersebut memang ada.

“Sebagai orang politik jelas keinginan untuk itu ada. Cuma kita kan harus ukur kemampuan. Apalagi dalam system pemilihan seperti sekarang.  Tidak boleh hanya bahwa kita tenar, kita punya pribadi yang disukai. Tapi modal, juga sangat berpengaruh kedepan. Nah, ini yang kita tidak miliki untuk pergerakan ke arah sana. Apalagi untuk selevel Bupati, butuh dana cukup banyak,” ungkapnya.  

Karena itu, jika ada figur lain yang meminang, pihaknya mengaku awalnya masih pikir-pikir. Sebab, menurutnya, tujuan berpolitik untuk bisa mensejahterakan masyarakat Bangli. “Orang politik dengan kondisi seperti saya, ya belum berani juga lansung merespon. Apalagi saya sendiri masih merupakan kader PDIP. Walaupun sudah tidak duduk distruktur partai, kesetian kita sebagai kader harus dihargai. Tapi kalau memang peluang itu ada, dan apa yang menjadi kekurangan saya ada yang mengisi, tidak menutup kemungkinan juga,” sebutnya.  Yang penting, lanjut Ngakan Kutha Parwata, pada saat dipaketkan tidak dilakukan secara paksa.

“Kita kawin cocok tidak. Jangan kawin paksa. Selain itu, konotasi antara sopir dengan kernet harus hilang. Kita berbagi tugas, karena visi misi dibuat bersama,” tegasnya.

Sejauh ini, apa sudah ada yang melamar? “Ada, tapi dari figur lain sudah ada yang mendekati. Cuma kita masih berpikir. Pertama masalah kendaraan, karena figur yang mengajak diluar PDIP kan susah ya. Tapi kalau nanti, jika kendaraan dia sudah punya, bisa saja,” sebutnya. Karena itu, diakui, untuk ‘loncat pagar’ ke partai lain, tidak menutup kemungkinan kalau memang ada kecocokan.

“Tapi tetap harus saya pikirkan dulu dengan lebih matang. Kemudian kita juga harus rasional. Paling pertama, survey harus dilakukan, tidak bisa hanya sekadar wacana. Survey harus betul-betul dilakukan. Seberapa besar keinginan masyarakat, menginginkan perubahan yang lebih baik dari sekarang dan seperti apa juga komitmen kita. Kalau itu bisa nyambung, iya sudah  jalan,” bebernya.

Berani gak meninggalkan partai? “Kalau memang untuk kepentingan yang besar dan lebih bagus kenapa tidak. Jadi untuk memberikan pembelajaran demokrasi kepada masyarakat, terutama  adalah mengarah kepada hal yang lebih baik,” tegasnya.  Sebab, menurutnya, untuk pembangunan Bangli tidak bisa serta merta dilakukan dalam satu periode atau dua periode. “Ini yang harus benar-benar dibahas, baik dengan pasangan maupun kendaraan, kalau ada. Termasuk jika melalui jalur  independent, agar program yang akan dijalankan bisa berjalan baik untuk kepentingan Bangli kedepan agar jadi lebih baik dari sekarang,” pungkasnya. (ard)