JA Teline V - шаблон joomla Форекс

POLITIK
Typography
DENPASAR - fajarbali.com | Usai ditetapkan sebagai Ketua Komisi III DPRD Bali, Anak Agung Ngurah Adhi Ardhana langsung tancap gas. Hal ini terbukti dengan melakukan pengecekan terkait beroperasinya Teman Bus. Gung Adhi didampingi para anggota Komisi III lainnya Kadek Setiawan, Made Suardana, Nyoman Laka, Kadek Diana, dan Ni Luh Yuniati mengawali sidak tersebut dengan menaiki Teman Bus di Parkir GOR Ngurah Rai Denpasar. 




Didampingi Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat Wilayah XII Bali-NTT Muiz Thohir, rombongan Komisi III DPRD Bali menuju Bandara Ngurai Rai Badung. Sesampainya disana mereka berdiskusi mengenai proyeksi Teman Bus yang merupakan program dari Kementrian Perhubungan (Kemenhub) RI tersebut.





Ketua Komisi III DPRD Bali Anak Agung Ngurah Adhi Ardhana menyampaikan, pihaknya menilai adanya Teman Bus yang di-launcing oleh Gubernur Bali beberapa waktu yang lalu sangat bagus bagi Bali. Apalagi, indeks kemajuan suatu wilayah atau kota salah satunya didasarkan pada moda transportasi. "Ini adalah program yang sangat luar biasa, jadi menuju bagaimana indeks suatu daerah dikatakan maju, tentunya dimana ditandai dengan adanya transportasi publik yang baik," ujarnya, Selasa (13/10/2020).





Program Teman Bus yang dicanangkan oleh Kementrian Perhubungan RI di Bali itu diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dalam memilih transportasi darat. "Mudah-mudahan bisa memberikan nilai dan tatanan baru dalam bertransportasi publik," tambahnya.




Meski demikian, Komisi III memandang perlu adanya fasilitas penunjang dan regulasi agar Teman Bus bisa semakin berkembang dan berkelanjutan. Pihaknya juga sedikit memberikan evaluasi terhadap transportasi yang sama dengan Trans Sarbagita tersebut. "Kalau infrastruktur, ada beberapa marka-marka dan tanda-tanda 'stop' masih belum (banyak yang terpasang). Aplikasi Teman Bus, juga berharap adanya estimasi waktu kedatangan dan tempuh," katanya.




Gung Adhi mengakui jika Teman Bus hampir sama dengan Trans Sarbagita yang sebelumnya sudah ada lebih dulu. Hanya saja, ada beberapa kelemahan dari Trans Sarbagita dibandingkan Teman Bus. Contohnya saja dari ukuran Bus. "Size kendaraan (Trans Sarbagita) cukup besar, sehingga mengakibatkan mungkin dinamika untuk mereka yang bertransportasi hanya pada jalur-jalur besar. Seperti By pass dan tol, itu saja bisa dilalui," tandasnya.




Ia juga menyarankan agar Teman Bus bisa menggandeng aplikasi penyedia layanan transportasi berbasis online. Sehingga menjadi satu aplikasi. Terakhir, saat disinggung apakah di Bali memungkinkan dibuat jalur khusus untuk Teman Bus seperti Trans Jakarta. Menurutnya, dengan kondisi jalan di Bali, dirasa sangat sulit. "Saya kira itu mungkin agak sulit. Tapi mengkombinasikan, karena sekarang Kota Denpasar sedang menuju Denpasar Maju. Dimana, sebelumnya sudah menyiapkan jalur sepeda, jalur ini mungkin bisa dikombinasikan dengan Teman Bus," tutup dia. Intinya, kendaraan publik itu bukan masalah kecepatan, melainkan ketepatan yang mengacu pada estimasi waktu.




Sementara itu, Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat Wilayah XII Bali-NTB Muiz Thohir menyatakan, kedepan pengelolaan dan operasional dari Temen Bus sendiri bisa dilakukan oleh Pemprov Bali. Bukan di Bali saja, beberapa daerah lainnya di Indonesia seperti Kota Solo, Palembang, Surabaya, dan Medan juga mendapat program yang sama dari Kementrian Perhubungan RI. "Diharapkan bisa berkelanjutan secara mandiri," akunya.




Disebutkan bahwa sebelumnya ada kegagalan dari Pemerintah dengan memberikan bantuan berupa Bus untuk Trans Sarbagita. "Berdasarkan hasil evaluasi ya, dulu kita pendekatannya memberikan bantuan beberapa Bus kepada Pemda. Dan ternyata dianggap gagal, karena Pemda sendiri tidak mampu mengeluarkan anggaran," jelas dia.




Dengan mengusung konsep BTS (Buy The Service), Pemerintah hanya membayar layanan yang sesuai dengan standar yang telah ditentukan. "Ini untuk peningkatan kualitas layanan," pungkasnya. (her).