JA Teline V - шаблон joomla Форекс

POLITIK
Typography

DENPASAR - fajarbali.com | Sejak adanya Pandemi Covid-19, system pembelajaran siswa beralih secara Daring (jaringan) atau yang lebih dikenal dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Ini dilakukan gunakan penyebaran dan juga munulnya kluster baru. Akan tetapi, banyak orang tua siswa yang mengeluh dengan system pembelajaran tersebut. Beberapa pihak juga mengklaim jika system virtual ataupun Daring tidak efektif untuk diterapkan dibandingkan dengan tatap muka secara langsung.

 

Terkait hal itu, DPRD Bali mengusulkan system pembelajaran sedikit dirubah untuk saat ini. Ini disampaikan oleh Ketua Komisi IV DPRD Bali I Gusti Putu Budiarta mengusulkan agar pembelajaran tetap dilaksanakan secara tatap muka. Hanya saja, tatap muka tidak dilangsungkan secara keseluruhan yakni dibagi menjadi dua kelompok dalam satu kelas. "Sekarang yang diterapkan kan full online. Nah paling tidak, mungkin bisa dilakukan dibagi dua tahap. Kalau bisa dia langsung tatap mula setengah, besoknya setengah," ujarnya, Selasa (28/07/2020).

 

Dengan system belajar tersebut, para siswa akan bergiliran melakukan pembelajaran secara tatap muka. Kelompok pertama akan tatap muka, dan kelompok kedua secara virtual. Namun, tetap harus menerapkan protocol kesehatan. "Tetapi dibagi dua kelasnya. Mungkin dibagi perharinya setengah-setengah. Jadinya kan ada physical distancing di sana," akunya.

 

Gusti Budiarta berharap, dengan adanya pembelajaran tatap muka, para siswa bisa semakin banyak berdiskusi dengan guru dan lebih memahami dengan materi yang diajarkan di sekolah. Berbeda dengan virtual yang tidak ada system tanya jawab. "Kalau virtual seperti itu sepertinya tidak ada tanya jawab. Mereka jadinya kurang paham dengan materi yang diajarkan," tandasnya.

 

Menurutnya, Bali saat ini telah menerapkan Tatanan Kehidupan Era Baru atau yang lebih dikenal dengan New Normal. Sehingga, system pembelajaran melalui metode tatap muka langsung seharusnya juga bisa diterapkan. Meski demikian, tidak serta merta dilakukan secara penuh. "Seperti itu harapan kita kepada Kadis (Pendidikan) supaya diperhatikan hal-hal seperti itu. Mulai sekarang diperhatikan, apalagi kita akan segera membuka pariwisata di era new normal. Tetapi harap juga pelan-pelan, jangan full langsung. Pelan-pelan dan bertahap," harapnya.

 

Komisi IV DPRD Bali juga mengakui jika selama ini banyak keluhan dari masyarakat terkait system belajar secara Daring yang dijalankan selama ini. Pasalnya, orang tua siswa merasa kurang maksimal dalam proses belajar mengajar.  Situasi itu membuat anak mereka tidak paham ketika mendapatkan materi yang diajarkan oleh guru. Di sisi lain orang tua juga mempunyai keterbatasan waktu dalam mendampingi anaknya belajar melalui virtual karena harus bekerja. Maka dari itu, perlu ada revisi terkait kebijakan dalam hal pembelajaran kepada siswa saat ini. "Supaya diusulkan kepada pusat agar bisa merevisi paling tidak keinginan di daerah itu seperti ini," pintanya.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Kadisdikpora) Provinsi Bali Ketut Ngurah Boy Jayawibawa menyatakan bahwa hingga saat ini sekolah masih belum bisa dibuka. Ini sesuai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran 2020/2021 pada Masa Pandemi COVID-19. SKB ini dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan; Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri.

 

"Itu kan belum dicabut, jadi enggak boleh (membuka sekolah). Di sana kan salah satunya adalah bahwa jika zona hijau pun ada ketentuan lagi. Di terakhir harus ada izin orang tua. Sementara Bali sendiri kan belum zona hijau. Jadi kita tidak berani melanggar," katanya.

 

Menurut dia, Pandemi Covid-19 memang menjadi dilemma yaitu soal kesehatan dan efektivitas. Salah satunya terkait pembelajaran. Begitu juga dengan keluhan dari para orang tua mengenai system pembelajaran melalui Daring.Pihaknya telah menggelar Workshop serta pelatihan kepada guru. Masalahnya saat ini, orang tua siswa terkadang merasa kesulitan dalam mendampingi anaknya belajar. Pasalnya, belum terbiasa mengajar. "Nah di sinilah tentu si guru harus lebih bijak. Soalnya janganlah seperti yang dalam lomba mungkin bagi siswa atau orang tua dianggap sulit kan," tandasnya.

 

Terakhir, kata Boy, pada tahun ajaran baru ini, mulai ada transfer ilmu dari guru ke siswa melalui pembelajaran Daring. Apabila memang ada tugas diharapkan jangan sampai memberatkan siswa. (her).