JA Teline V - шаблон joomla Форекс

PENDIDIKAN
Typography

DENPASAR - fajarbali.com | Salah satu dampak Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) pada sektor pendidikan adalah munculnya riak-riak keringanan biaya pendidikan, seperti SPP di setiap satuan pendidikan.

 

Seperti yang diutarakan salah satu orangtua mahasiswa asal Karangasem, I Nyoman Subrata, Senin (13/4/2020). Ia mengaku anaknya sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) di Denpasar. Karena usaha peternakannya lesu akibat corona, ia meminta pihak kampus memberi keringanan SPP.

Selain itu, ia belasan selama sebulan terakhir, mahasiswa kuliah dari rumah alias online, sehingga tidak menyusutkan fasilitas di kampus. "Kuliah anak saya harus tetap lanjut, karena saya ingin punya anak sarjana. Tapi situasi ekonomi sekarang saya gak tau bagaiamana caranya membayar biaya kuliahnya, fokus saya saat ini hanya memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga," kata Subrata.

Rektor Institut Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali I Gede Putu Darma Suyasa, S.Kp., M.Ng., PhD., dihubungi dari Denpasar, Senin (13/4) turut angkat bicara. Darma Suyasa mengakui wacana ini memang sangat dilematis. Di satu sisi ia mengerti dengan situasi sebagain besar orangtua mahasiswa, namun di sisi lain, lembaga pendidikan swasta memang menggantungkan hidupnya dari pembayaran mahasiswa.

Meskipun sejak 16 Maret 2020 ITEKES Bali telah melaksanakan kuliah dalam jaringan (Daring), namun tidak mengurangi beban yang harus ditanggung lembaganya. "Gaji atau hak para dosen, pegawai dan karyawan lain kan juga tetap kami penuhi, karena mereka juga bekerja seperti biasa, cuma beda metode selama masa darurat ini," katanya.

Ia berpandangan, pemerintah harus hadir menengahi persoalan ini dengan memberikan subsidi ke PTS layaknya Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Bagaimanapun, menurut dia, PTS juga turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa. "Mungkin sementara waktu pemerintah bisa menggunakan dana penanggulanan Covid-19 untuk membantu PTS," harapnya.

Terkait perkuliahan daring di ITEKES (Sebelumnya STIKES) Bali, lanjut Darma Suyasa, sudah berjalan dengan baik. Ia terus melakukan evaluasi sejak minggu pertama masa darurat Covid-19. Sejumlah kendala ditemukan, misalnya jaringan internet dari mahasiswa, penyerapan materi belum maksimal, tugas dinilai terlalu berat dan sebagainya.

Apalagi ITEKES memiliki 1.700 lebih 'student body', sedangkan sistem LMS yang dimiliki kampus disiapkan untuk 500 mahasiswa. Kenadala ini tentu bisa dimaklumi pasalnya Pandemi corona merupakan force majeure yang tidak diduga oleh siapapun. Hasil evaluasi telah diperbaiki sehingga perkuliahan daring tidak mengurangi esensi layaknya kuliah konvensional.

Rektor yang menempuh pendidikan lanjutan di Australia ini menambahkan, ada sejumlah materi praktik yang tidak bisa dilakukan secara daring, seperti praktik lapangan di pusat layanan kesehatan. "Untuk materi yang tidak bisa di-online-kan, kami tunda dulu mungkin hingga Juni 2020. Namun kami jamin tidak menghambat hak mahasiswa lulus tepat waktu," jelasnya.

ITEKES Bali, lanjut Darma Suyasa, juga telah menjalin komunikasi intensif dengan asosiasi profesi keperawatan tentang efektivitas capaian pembelajaran daring. Sebab, ITEKES adalah lembaga yang menelurkan tenaga kesehatan andal, jangan sampai kompetensi lulusan menurun akibat capaian pembelajaran tidak sesuai dengan target yang ditentukan.

Lebih lanjut, ia memprediksi situasi yang disebabkan corona sedikit berpengaruh pada penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2020/2021. Namun di sisi lain, ia mengaku optimis ITEKES Bali semakin diminati seiring meningkatnya kesadaran warga tentang pola hidup bersih dan sehat. "Karena kesadaran akan kesehatan meningkat, bisa juga orang semakin ramai melanjutkan pendidikan di institusi kesehatan. Kami sudah putuskan memperpanjang pendaftaran mahasiswa baru (Pemaru) hingga Juni 2020," pungkasnya.(gde)