JA Teline V - шаблон joomla Форекс

PENDIDIKAN
Typography

DENPASAR-fajarbali.com | Penataan tata ruang wilayah perkotaan menjadi salah satu fokus pemerintah saat ini. Terlebih, Indonesia terdiri lebih dari 17.000 pulau dengan jumlah penduduk yang terus mengalami peningkatan.

Sehingga diperlukan penataan tata ruang wilayah perkotaan yang menjadi pusat padatnya penduduk. Perguruan tinggi mempunyai peran untuk mewujudkan hal itu dengan pembangunan yang berbasis budaya lokal.  Sebab, budaya menjadi salah satu keunggulan dan keunikan pembangunan, terutama di Bali.

Fakultas Teknik Universitas Hindu Indonesia (FT Unhi) Denpasar dengan program studi Perencanaan Wilayah Kota (PWK) menjadi salah satu "rule model" prodi tentang penataan ruang kota yang mengedepankan basis budaya di Indonesia. Oleh karenanya, beberapa perguruan tinggi di tanah air melakukan studi banding , bahkan melakukan MoU dengan FT Unhi Denpasar untuk mengembangkan sistem tata ruang di daerah di masing-masing perguruan tinggi bersangkutan. Salah satunya dilakukan Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) Yogyakarta.

"Kedatangan kami ini untuk menegaskan kerjasama secara legal dengan Fakultas Teknik Unhi Denpasar, dan akan kami tindaklanjuti dengan penelitian bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa supaya saling melengkapi. Dimana, prodi PWK di Unhi berbasis budaya, sedangkan kami di STTNAS pengembangan pesisir dan pulau-pulau kecil,"ujar Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) Yogyakarta, Dr. Ir. H. Ircham, M.T., disela-sela keunjungan bersama 121 mahasiswa Prodi PWK SSTNAS ke Unhi Denpasar, Selasa (4/12/2018).

Ircham mengatakan saat ini Bangsa Indonesia terdiri dari lebih 17.000 pulau dengan jumlah pendudukan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Oleh karena itu, diperlukan tata ruang kota yang mengedepankan budaya. Sehingga, pembangunan tata ruang kota di Indonesia bisa tertata dengan baik sesuai dengan budaya yang kita miliki. Apalagi, lebih dari 50% pendudukan Indonesia bertempat tinggal di daerah perkotaan. Tentu hal ini memunculkan banyak permasalahan.  "Oleh karena itulah kami belajar ke sini (FT Unhi Denpasar-red), sehingga tata ruang kota di Indonesia bisa tertata dengan baik sesuai dengan budaya kita,"tandasnya.

Dekan FT Unhi Denpasar, I Komang Gede Santhyasa, S.T.,M.T., mengatakan dengan MoU yang dilakukan dengan STTNAS Yogyakarta akan menginspirasi FT Unhi Denpasar di dalam mengembangkan keilmuan dan menghasilkan lulusan yang mampu membangun tata ruang kota-kota di Indonesia jauh lebih baik ke depannya. Bahkan, tahun depan pihaknya akan melakukan kunjungan balasan ke STTNAS Yogyakarta untuk belajar dan diskusi bersama mengenai tata ruang kota di Indonesia.

"Jadi sumbangan kita (FT Unhi Denpasar-red) bagaimana aspek budaya dijadikan salah satu model di dalam melakukan penataan ruang kota. Apalagi tata ruang di Bali dijadikan contoh model bagi pembangunan tata ruang kota di wilayah lainnya,” kata dekan yang dikenal dekan yang dikenal dekat dengan peserta didiknya itu. 

Untuk diketahui, FT Unhi dewasa ini menjadi magnet tersendiri bagi perguruan tinggi, khususnya yang mengelola prodi Teknik Sipil dan PWK dari berbagai perguruan tinggi ternama se-Indonesia. Ke depan, FT Unhi terus berjuang mendirikan prodi Arsitektur untuk melengkapi prodi yang ada. (gde)