JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Pelajaran Sejarah Perlu Direvitalisasi Hadapi RI 4.0

PENDIDIKAN
Typography

DENPASAR-fajarbali.com | Pembelajaran sejarah di sekolah saat ini mengalami kesenjangan. Para sejarawan pun menyebut mata pelajaran tersebut makin hari makin tak diminati pelajar karena dianggap mata pelajaran yang membosankan.

Guru besar Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Prof. I Gede Widja pun menyebut gaya mengajar guru yang menitikberatkan model hafalan menjadi faktor utama yang masih terjadi secara masif. Belum lagi era yang serba digital seperti sekarang, dengan sekejap dapat mengubah sikap siswa menjadi acuh.

Hal itu diuraikan Prof. I Gede Widja saat menjadi narasumber seminar nasional Program Studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI Bali, Jumat (26/10), di Auditorium Redha Gunawan kampus setempat.

Dalam penjelasannya, Prof Widja menyebut pembelajaran sejarah perlu mendapat revitalisasi, terutama menghadapi era revolusi industri 4.0. Salah satu cara, kata Prof Widja adalah menerapkan istilah pola hafalan itu ke model Pembelajaran Sejarah yang Mencerdaskan atau disebut PSM.

"Revitalisasi pembelajaran sejarah bukan saja merespon tantangan era revolusi 4.0 itu, tapi lebih luasnya meningkatkan citra pelajaran sejarah dari sekadar pelajaran hafalan menjadi pelajaran untuk latihan berpikir tingkat tinggi, meningkatkan posisi 'pinggiran' pelajaran itu agar lebih dihargai sebagai pelajaran utama," kata guru besar yang baru saja meluncurkan buku tentang model pembelajaran sejarah itu.

Selanjutnya hadir sebagai narasumber kedua, pakar sejarah Universitas Negeri Malang Dr. Dewa Agung Gede Agung menyebut perkembangan teknologi mestinya tak jadi persoalan yang memengaruhi kualitas pembelajaran. Malah, kata dosen asal Bangli ini, era revolusi hendaknya menjadi bantuan dalam mengembangkan pola pembelajaran.

"Revolusi industri 4.0 berpengaruh terhadap sejarah, baik secara substansi semakin kompleksnya sumber sejarah, maupun proses belajarnya," ujar Dewa Agung.

Ia menambahkan, revitalisasi memang perlu dilakukan dengan memanfaatkan teknologi secara sederhana. Misalnya bisa menggunakan digitalisasi sebagai model belajar baru yang ditawarkan pada siswa. Menurutnya, hal itu akan menekan angka kebosanan siswa belajar sejarah.

"Guru harus kreatif. Memanfaatkan media untuk memperoleh informasi, materi, bahkan menyampaikan materi itu agar tepat guna, sehingga revolusi industi 4.0 bukan sebagai ancaman, tapi peluang. Tentu guru harus meningkatkan kompetensinya," tegas dia.

Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI Bali Ni Luh Tejawati mengatakan, seminar yang diadakan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Sejarah bertujuan mensosialisasikan pembelajaran sejarah sebagai bahan untuk meningkatkan potensi diri, dan menjadikan sejarah sebagai sumber pendidikan nilai karakter.

"Nilai-nilai karakter seperti jiwa kepemimpinan, patriotisme, dan sosial dapat digali melalui sejarah. Namun kenyataannya di sekolah, siswa banyak yang mengganggap remeh pelajaran itu. Bahkan guru-guru masih menerapkan pola pengajaran kuno sehingga membuat kesan pelajaran sejarah hanya sebagai pelajaran yang menghafal saja, membosankan," ungkap Tejawati.

Seminar tersebut lebih berkualitas dengan menghadirkan dua narasumber yang konsisten terhadap pengembangan model pembelajaran sejarah. "Menghadirkan Prof. I Gde Widja dan Dr. Dewa Agung Gede Agung sangatlah tepat. Kami berharap mahasiswa nanti menjadi guru punya bayangan pemilihan model pengajaran, pola dan strategi seperti apa yang cocok untuk mengajar sejarah dengan tipe siswa yang berbeda," pungkasnya didampingi Ketua Panitia Egidius Ceme. (eka)