JA Teline V - шаблон joomla Форекс

PENDIDIKAN
Typography

DENPASAR – fajarbali.com | Sabtu (4/6/2022) menjadi hari bersejarah bagi dunia kesehatan. Sebab, untuk kali pertamanya di Tanah Air, sebanyak 223 Perawat Anestesiologi dilahirkan oleh Institut Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali. Mereka berasal dari Program D IV Keperawatan Anestesiologi jalur Reguler 110 orang, dan 113 dari jalur Alih Jenjang. Mereka diwisuda di Convention Hall, Kampus II ITEKES Bali Jalan Tukad Balian Nomor 180, Denpasar.

Peluang kerja bagi perawat anestesiologi tidak diragukan lagi karena memang menjadi kebutuhan di seluruh layanan kesehatan termasuk puskesmas. Sebaran kebutuhannya juga merata di seluruh wilayah Indonesia. Ini dibuktikan dengan wisudawan kemarin yang berasal dari seluruh provinsi se-Indonesia. Demikian dikatakan Rektor ITEKES Bali I Gede Putu Darma Suyasa, S.Kp.,M.Ng.,Ph.D.

“Bicara kebutuhan perawat anestesi (D IV-red) ini, tentu sangat dibutuhkan karena masih langka. Wisudawan kali ini adalah yang pertama kali kami lepas setelah kami mengantongi izin Prodi DIV Anestesiologi. Kami perguruan tinggi swasta pertama yang menerima izin itu,” kata Darma Suyasa.

Rektor mengucapkan selamat kepada wisudawan juga orangtua yang telah men-‘support’ putra-putrinya sehingga berhasil menuntaskan studinya. Ia berharap, wisudawan yang akan berstatus alumnus untuk menjaga nama baik almamater dengan memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi pasien. “Bagi yang berencana ke magister juga saya doakan semoga lancar,” harapnya.

Ketua YPPLPK Bali Ida Bagus Arka mengungkapkan, sejatinya lulusan D IV Keperawatan Anestesiologi berpeluang besar berkarir di luar negeri. Namun, ia berpendapat, kebutuhan dalam negeri saja belum terpenuhi. Dalam artian, prodi ini sangat prospektif ke depan. Sangat layak dipertimbangkan bagi calon mahasiswa baru untuk bergabung di ITEKES Bali.

Selain anestesiologi, menurut Ida Bagus Arka, ITEKES Bali juga memiliki prodi yang tak kalah prospektif. Misalnya teknologi pangan, akupuntur dan pengobatan herbal. “Ke depan, tiga prodi itu sangat berpeluang besar. Apalagi teknologi pangan yang menjadi kebutuhan primer manusia. Kita di Bali punya bahan pangan melimpah, misalnya salak. Nah, bagaimana mengolah bahan ini agar saat panen melimpah tidak mubazir?. Jawabannya ada di Prodi Teknologi Pangan yang kami kelola,” kata Ida Bagus Arka.

Plt. Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) VIII Prof. Dr. Drs. I Nengah Dasi Astawa juga mengapresiasi ITEKES Bali yang senantiasa komit menjaga mutu. Karenanya, tanpa ragu lagi, ia mengupayakan tahun depan ITEKES Bali ‘naik kelas’ menjadi universitas. “Saya ingin namanya Universitas Kesehatan Internasional. Tahun depan kalau bisa. Kita gas,” tegas Dasi Astawa.

Menurut Dasi Astawa, merubah status dari institut ke universitas tidak terlalu berat bagi ITEKES jika melihat potensi yang ada. Hanya saja perlu sarana rumah sakit. Perubahan status ke universitas ini, masih menurut Dasi Astawa juga untuk mendukung Rumah Sakit Bali Internasional yang sedang dibangun di Sanur, Denpasar.

ITEKES 2 5 6 22Rektor ITEKES Bali I Gede Putu Darma Suyasa, S.Kp.,M.Ng.,Ph.D. (di podium) memperkenalkan enam lulusan terbaik D IV Keperawatan Anestesiologi dari program reguler dan alih jenjang.

Pada kesempatan yang sama, lulusan terbaik dari jalur reguler Putu Rama Pratama Karma mengaku tidak salah menentukan pilihan saat awal bergabung dengan ITEKES Bali empat tahun silam. Pelayanan, fasilitas, sumber daya pendidik, kata dia, sangat luar biasa. Bahkan ia yakin sulit ditemukan di kampus lain.

Rama, sapaan karibnya, berencana melanjutkan ke jenjang magister (S2) anestesiologi di salah satu perguruan tinggi di Inggris. Saat ini ia fokus memperdalam kemampuan bahasa Inggris sambil menangkap peluang beasiswa. Meskipun peluang kerja terbuka lebar, ia memilih ‘ngejos’ melanjutkan pendidikan selagi muda.

Adapun tiga lulusan terbaik D IV Keperawatan Anestesiologi Program Reguler, di antaranya, Putu Rama Pratama Karma (IPK 3.97), Gita Vidya Natalia Lumbantobing (IPK 3.93), Daniel Datu Manga (IPK 3.89). Sedangkan dari Program Alih Jenjang yakni, Wayan Sudiana (IPK 3.96), Widya Amiri (IPK 3.96), serta Annuwarian (IPK 3.95).  (Gde)

BERITA TERKINI