JA Teline V - шаблон joomla Форекс

PENDIDIKAN
Typography
DENPASAR - fajarbali.com | Lembaga Pengabdian Masyarakat, Universitas Warmadewa (Unwar), menjalin Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dengan para perajin bambu di Desa Belega, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar.


Kerja sama ini bertujuan mempertahankan eksistensi Belega sebagai sentra kerajinan bambu.




Ketua PKM Unwar di Desa Belega, Dra. Ni Putu Sri Mariyatni,M.M., dikonfirmasi di Denpasar, belum lama ini, mengatakan, ia bersama anggota Ni Made Rai Juniariani, SE., M.Si., dan Dr. Agus Darma Yoga Pratama, SS., M.Hum., telah melakukan pendampingan dari aspek produksi, pembukuan, pemasaran dan juga aspek komunikasi bahasa yaitu bahasa Inggris.




Aspek produksi, dengan memberikan bantuan berupa pelatan produksi, seperti mesin bor, gergaji,  satu set alat pahat. Hal ini dilakukan dengan harapan untuk memperlancar proses produksi sehingga produksi meningkat baik secara kualitas maupun kuantitas. 




Sedangkan aspek pembukuan yang dilakukan adalah dengan memberikan pendampingan untuk membantu perajin dalam membuat pembukuan atau melakukan pencatatan terkait pengeluaran untuk keperluan operasional seperti pembelian bahan baku dan bahan penolong, biaya yang diperlukan dalam proses produksi sampai menjadi barang jadi dan biaya pemasaran, pencatatan mengenai pendapatan dari hasil penjualan untuk dapat mengetahui laba/rugi yang diperoleh, dengan demikian pengrajin akan dengan mudah mengembangkan usahanya dalam jangka panjang.




"Dari aspek pemasaran yang dilakukan adalah membantu pengrajin mempromosikan produknya salah satunya adalah dengan pembuatan katalog produk, agar calon konsumen dengan mudah dapat melakukan pemesanan atau pembelian dengan melihat produk yang ada pada katalog. Dari aspek komunikasi dalam berbahasa Inggris, hal ini dilakukan untuk memudahkan pengrajin berkomunikasi terutama dalam menghadapi calon konsumen asing," jelas Sri Mariyatni.




Pihaknya mengapresiasi semangat dan antusiasme perajin selama program berlangsung. "Kami pantau, para mitra (perajin bambu) sangat antusias, semangat komunikatif, dan selalu mengutamakan waktunya untuk berdiskusi dengan kami, meski jadwal kadang mendadak," tambahnya.




Sri Mariyatni berharap, PKM mampu meningkatkan aset, omset, kuantitas produksi serta jumlah tenaga kerja yang digunakan, seperti pada usaha I Nyoman Sudiarta, salah satu perajin bambu yang masih setia dengan profesi tersebut meski berbagai hambatan datang silih berganti.




Berdasarkan keterangan perangkat desa setempat, Sri Mariyatni menceritrakan, Desa Belega memang tersohor sebagai penghasil berbagai kerajinan tangan dari bambu, termasuk forniture, roomdevider, set kursi, dan segala jenis perlengkapan rumah tangga lainnya. Kisaran tahun 1980, hampir 100 persen penduduknya menekuni kerajinan bambu. Tahun 1990-an tersisa 350 perajin. Hantaman bom Bali 2002 silam, kian menyusutkan jumlah perajin. Data terakhir menyebut hanya tersisa 35 perajin bambu.




Produk kerajinan bambu tersebut memang cukup tergantung dari kondisi pariwisata Bali. Namun, bagi perajin yang tersisa, seperti Sudiarta, mengolah bambu adalah warisan leluhur yang patut dilestarikan. Badai pandemi Covid-19 juga sangat dirasakan akibat tidak adanya pesanan dari hotel, vila dan restoran. Untuk itu ia selalu berinovasi agar produk berbahan bambu khas Belega bisa diterima masyarakat. "Musim layang-layang kemarin, kami juga menjual bambu untuk rangka layang-layang," pungkas Sudiarta. (Gde)