JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KESEHATAN
Typography

DENPASAR - fajarbali.com | Memasuki era new normal harus dibarengi dengan kesadaran masyarakat untuk tetap memperhatikan protokol kesehatan, sebab jika abai bisa menimbulkan masalah lonjakan baru penderita Covid-19 ini. Apalagi WHO sudah menyampaikan bahwa virus corona berpotensi menjadi endemik baru yang hidup di tengah masyarakat. Virus corona ini diprediksi tidak akan pernah hilang.

 

 

Dalam menghadapi situasi yang serba sulit ini, memang ada beberapa pilihan kebijakan. Setiap pilihan kebijakan yang akan diambil tentu selalu ada resiko plus minusnya. Tentu semua berdasarkan pada masukan para ahli di bidangnya masing-masing. Salah satu opsi yang akhirnya akan diambil adalah apa yang disebut new normal, yaitu setiap orang diberi kebebasan untuk melakukan kembali aktivitas hariannya secara normal tetapi tetap berpedoman pada protokol kesehatan, seperti jaga jarak, tidak kontak fisik, jaga kebersihan, cuci tangan, dan lain-lain.

 

Sehubungan dengan hal itu, dilihat dari sisi Psikologis, Psikolog Ida Ayu Saraswati Indraharsani berpendapat, bahwa proses beradaptasi seseorang dalam penerapan new normal dapat mempengaruhi kesehatan mental. Dalam menghadapi era new normal itu, banyak tantangan yang harus dihadapi masyarakat salah satunya adalah beradaptasi dengan kebiasaan baru.

 

"Ketika mereka tidak terbiasa dengan kondisi baru yang harus dihadapi, hal tersebut dapat menimbulkan stress karena penolakan terhadap kondisi itu. Dalam proses penerimaan new normal, memungkinkan seseorang untuk menolak beradaptasi, yang akhirnya akan jadi stres," kata ujarnya.

 

Pihaknya mengatakan, dalam beradaptasi pasti tidak mudah, karena ada beberapa proses penolakan terhadap kebiasaan-kebiasaan baru yang harus dijalani. Salah satunya muncul ketidaksenangan untuk menjalankan kebiasaan-kebiasaan baru itu. Proses beradaptasi setiap orang berbeda-beda tergantung dari persepsi dan kemampuan individu untuk menerima situasi.

 

"Proses untuk menjadikan suatu perilaku agar menjadi kebiasaan itu butuh waktu, ada yang mudah beradaptasi dan ada juga yang lebih lambat. Dalam proses penerimaan new normal misalnya, memungkinkan seseorang untuk menolak beradaptasi, yang akhirnya akan jadi stres. Selain itu, kesehatan mental bukan sekedar kejiwaannya normal atau tidak, tapi kesehatan mental itu tentang kemampuan berpikir yang rasional, untuk mengekspresikan emosi yang dirasa dan berperilaku tepat dengan kondisi yang hadapi," jelasnya.

 

Saat ini penerapan new normal sudah banyak pihak yang membahas, hanya saja penerapannya masih belum digambarkan secara jelas. New normal yang diterapkan saat ini masih berpusat untuk pencegahan penyebaran pandemi.

 

"New normal ini kan diharapkan bisa menjadi gaya hidup baru, misalnya kita pergi kemanapun harus 

pakai masker, sehabis pergi atau menyentuh barang-barang di publik area kita akan selalu cuci tangan, atau langsung mandi sebelum kumpul sama keluarga," tutupnya. (dar).

 

 

  •