JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KESEHATAN
Typography

DENPASAR - fajarbali.com | Di tengah wabah Covid-19, muncul satu fenomena sosial yang berpotensi memperparah situasi, yakni stigma sosial atau asosiasi negatif terhadap seseorang atau sekelompok orang yang mengalami gejala atau menyandang penyakit tertentu. Mereka diberikan label, didiskriminasi, diperlakukan berbeda, atau mengalami pelecehan status karena terasosiasi dengan sebuah penyakit.

 

 

Sebagai penyakit baru, banyak yang belum diketahui tentang pandemi Covid-19. Terlebih masyarakat cenderung takut pada sesuatu yang belum diketahui dan lebih mudah menghubungkan rasa takut pada kelompok yang berbeda. "Inilah yang menyebabkan munculnya stigma sosial dan diskriminasi terhadap etnis tertentu dan juga orang yang dianggap mempunyai hubungan dengan virus ini," ujar Seksi Promkes Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Ni Kadek Widiastuti, SKM,MPH, Selasa (2/6/2020).

 

Menurut Widiastuti, perasaan bingung, cemas, dan takut yang dirasakan dapat dipahami, tapi bukan berarti boleh berprasangka buruk pada penderita, perawat, keluarga, ataupun mereka yang tidak sakit tapi memiliki gejala yang mirip dengan COVID-19.

 

"Jika terus terpelihara di masyarakat, stigma sosial dapat membuat orang-orang menyembunyikan sakitnya supaya tidak didiskriminasi, mencegah mereka mencari bantuan kesehatan dengan segera, dan membuat mereka tidak menjalankan perilaku hidup yang sehat," katanya.

 

Stigma negatif pada saat Covid-19 terjadi ada pasien, ODP, PDP serta petugas kesehatan yang menangani pasien covid19. Stigma negatif yang diberikan hanya akan memperparah keadaan baik secara mental maupun pada penyebaran penyakit itu sendiri.

 

Pasien Covid-19 mengaku marasa tertekan dengan adanya stigma negatif ini akibat foto-fotonya disebarkan oleh pihak tertentu. Petugas medis yang menangani pasien Covid-19 juga mengalami berbagai tindakan masyarakat yang kurang baik misalnya diusir dari kontrakan dll.

 

"Beberapa OPD, PDP juga mengalami tekanan psikologis dari lingkungan sekitar. Hal ini terjadi karena masyarakat sering mendapatkan berbagai berita negatif tentang penyakit ini meskipun dari data yang ada Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebutkan kemungkinan sembuh penyakit ini adalah 97 persen. Stigmatisasi tersebut sangat berdampak terhadap imunitas seseorang yang terkait Covid-19 dan akan berpengaruh dalam proses penyembuhan pasien Covid-19," terang Widiastuti.

 

Pemberitaan media terkait informasi yang utuh soal penularan virus yang selama ini sering tidak sampai ke masyarakat serta media yang hanya fokus pada pertumbuhan kasus dan kurangnya keterbukaan informasi perihal penanganan Covid-19 sangat mempengaruhi stigma terhadap orang terkait Covid-19 baik itu OTG, ODP, PDP, pasien positif dan keluarga pasien serta Nakes.

 

Untuk itu, Widiastuti berharap upaya dalam meminimalisir stigma negatif Covid-19 di masyarakat harus gencar dilakukan seperti menyampaikan pesan-pesan kesehatan, ketahui fakta-fakta dan berbagilah pada sesama untuk membantu mengurangi ketakutan dan kecemasan, serta bantu masyarakat untuk menghindari hoax dan informasi yang salah.

 

"Selain itu, bantu agar setiap keluarga dapat memiliki sarana dan mau mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, bantu agar warga tahu apa yang harus dilakukan bila mengalami gejala. Mencegah dan menghentikan stigma di sekitar kita tidak sulit bila semua pihak bersatu padu dalam berkomitmen untuk tidak menyebarkan prasangka dan kebencian pada kelompok tertentu yang terkait dengan Covid-19. Kita semua dapat ikut berperan untuk meminimalisir stigma negatif tersebut demi upaya bersama menanggulangi pandemi ini," tegasnya. (dar).