JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Berapa Tekanan Darah Normal Untuk Orang Tua?

KESEHATAN
Typography

Tidak ada perbedaan nilai normal tekanan darah berdasarkan usia.  Joint National Committee (JNC) VIII mendiagnosis pasien dengan hipertensi jika tekanan sistolik ≥140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolic > 90 mmHg, berdasarkan rerata dua atau tiga kali pengukuran yang cermat sewaktu duduk dalam satu atau dua kali kunjungan dan kriteria ini berlaku universal yang artinya tidak dipengaruhi usia, jenis kelamin, dan penyakit tertentu.

PENYEBAB HIPERTENS

Penyebab yang tidak dapat dikontrol (usia dan keturunan) dan dapat dikontrol (merokok, kadar garam yang tinggi, status gizi dan stres).

Usia, tekanan  darah cenderung meningkat dengan bertambahnya usia, pada laki-laki pada usia > 45 tahun dan wanita pada usia > 55 tahun.    Hal ini disebabkan pembuluh darah yang mulai kaku akibat penumpukan lemak dan proses inflamasi yang kronis. Pada wanita yang sudah menopause akan terjadi penurunan produksi hormon estrogen. Estrogen pada wanita memiliki sifat kardio protektor yang artinya memberikan perlindungan pada jantung.

 Keturunan (Genetik), sekitar 70-80% pasien dengan hipertens terdapat riwayat hipertensi dalam keluarga.

 Merokok, Kebanyakan efek ini berkaitan dengan kandungan nikotin yang menyebabkan ketagihan, meningkatnya frekuensi denyut jantung dan tekanan darah. Karbon monoksida pada asap rokok juga berkompetisi dengan oksigen pada sel darah, sehingga kadar oksigen yang beredar keseluruh tubuh menurun menyebabkan tekanan darah meningkat karena jantung dipaksa untuk mencukupi kebutuhan oksigen di dalam tubuh.

 Status Gizi, Obesitas merupakan faktor  risiko munculnya berbagai penyakit degeneratif, seperti hipertensi, penyakit jantung koroner dan diabetes mellitus. Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah salah satu cara untuk mengukur status gizi seseorang. Seseorang dikatakan kegemukan atau obesitas jika memiliki nilai IMT≥25. Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut:

             Berat badan (kg)

IMT :     ---------------------------------------------

            Tinggi badan(m) x tinggi badan (m)

 

Garam, akan mengikat air yang menyebabkan volume darah yang kembali kejantung tinggi sehingga membebani jantung dan meningkatkan tekanan darah jantung untuk memompa darah.

Stres, keadaan ini akan memicu saraf simpatis yang berperan dalam menyempitkan pembuluh darah sehingga tekan darah meningkat.

 

PENANGANAN

Penanganan obat hipertensi dilakukan dengan terapi obat dan perubahan pola hidup. Pasien diwajibkan mengonsumsi obat hipertensi seumur hidup dan diwajibkan untuuk rutin memeriksakan tekanan darahnya. Banyak orang berfikir untuk meinum obat hipertensi jika sudah bergejala.  Padahal gejala hanya akan muncul jika sudah terjadi komplikasi seperti pendarahan di otak (stroke) gagal jantung, dan gagal ginjal. Obat-obat anhipertensi yang biasa kita kenal yaitu captopril memiliki sifat reno protector yang artinya melindungi ginjal dengan jalan melebarkan pembuluh darah ginjal dan mengurangi tekanan di ginjal sehingga mencegah kerusakan pada ginjal Efeksamping yang ditimbulkan oleh captopril yaitu batuk kering, sakit kepala, berdebar, pusing berputar, gangguan pengecapan, dan pankreatitis. Namun, efek smping tersebut sangat dapat ditoleransi oleh tubuh kita. Langkah lain yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan pengobatan, mengurangi jenis obat yang di konsumsi, dan mencegah komplikasi diantaranya:

Menurunkan berat badan sampai batas ideal.

Mengurangi pemakaian garam. Rasa tawar dapat diperbaiki dengan menambah gula merah, gula pasir, bawang merah, bawang putih, jahe, kencur, salam dan bumbu lain yang tidak mengandung atau sedikit garam Na.Makanan lebih enak ditumis, digoreng, dipanggang, walaupun tanpa garam. Bubuhkan garam saat di atas meja makan, gunakan garam beryodium (30 – 80 ppm), tidak lebih dari ½ sendok teh/ hari. Dapat menggunakan garam yang mengandung rendah natriumdanmengurangialkohol.

Olahraga aerobik yang tidak terlalu berat minimal 3-4 x perminggudurasi 30 menit secara teratur.

Berhenti merokok.

 

Penulis: dr. Ni Luh Putu Rustiari Dewi