KESEHATAN
Typography
Denpasar-fajarbali.com | Untuk mengantisipasi meningkatnya angka stunting ditengah fokus pemerintah dalam menanggulangi Covid-19, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali melalui Dinas Kesehatan Provinsi Bali akan terus berupaya maksimal dalam menekan kasus stunting di Pulau Dewata. Semua pemangku kepentingan diminta untuk selalu bahu-membahu menghapus stunting, pasalnya fenomena stunting dapat menjadi penghambat dalam menghasilkan generasi penerus yang sehat fisik dan rohani, serta berakhlak mulia dan cerdas.

"Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, karena butuh peranan seluruh stakeholder. Pemerintah mungkin bisa mengeluarkan skema dan rencana pencegahan, namun tetap ujung tombak pencegahan stunting ada di masyarakat terutama keluarga. Kita ingatkan pentingnya gaya hidup sehat untuk mencegah stunting sejak dini. Di sini, peran orang tua dibutuhkan dalam menjaga perilaku hidup bersih dan asupan bergizi sejak bayi dalam kandungan," ujar Kepala Bidang Kesmas Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. AA Sagung Mas Dwipayani, M.Kes., Rabu (14/7/2021).

Baca Juga :
Jaya Negara Serahkan BLT Kepada 10.119 KK Kelurahan se-Kota Denpasar
Sejumlah Pejabat OPD dan Anggota Dewan Terkonfirmasi Positif


Dijelaskan dr. Sagung, bahwa stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang terjadi sejak masih dalam kandungan. Pertumbuhan meliputi bertambahnya ukuran anak secara fisik, sementara perkembangan berkaitan dengan perubahan kognitif berupa bertambah pintar dan spiritual.

"Jadi, stunting adalah gangguan pertumbuhan fisik dan mental. Pencegahan stunting bisa dilakukan sejak dini dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Jika kebiasaan itu sudah ada minimal sejak remaja, tentu itu berguna jika kelak sudah menjadi calon ibu dan menjadi ibu kelak. Saya akui, kasus stunting di Bali masih rendah. Tapi kita harus selalu waspada pada peningkatan kasus yang terjadi," katanya.

Untuk mencegah stunting, dr. Sagung juga mengungkapkan perlunya bantuan tenaga kesehatan (nakes) bekerja sama dengan Tim Penggerak PKK Kabupaten/Kota harus bersatu padu melakukan aktivitas untuk memberikan pelayanan maupun pendampingan kepada masyarakat. Selain itu adanya kesadaran langsung masyarakat juga sangat berpengaruh dalam mencegah munculnya stunting.

"Dari data yang saya diperoleh pada Februari 2021, dari 9 Kabupaten/Kota di Bali disebutkan bahwa Kabupaten Jembrana, karangasem dan Kota Denpasar masih rendah. Sementara input data terbaik adalah Kabupaten Gianyar, Tabanan dan Buleleng. Ketiga Kabupaten ini juga merupakan kabupaten yang sangat konsen untuk memerangi stunting. Untuk tiga kabupaten ini juga, kita akan berikan tambahan pengetahuan sehingga mereka semakin mantap dalan menjalankan tugas mendata semua klien mereka di lapangan," bebernya.

Oleh sebab itulah imbuh dr. Sagung, ketika turun ke lapangan untuk melakukan penilaian stunting, maka ini menjadi catatan bagi tim semuanya. Dimana seluruh Kabupaten/Kota di Bali harus diberikan pembinaan terkait hal itu. "Apabila ini secara terus menerus terjadi, maka akan nerusak citra Bali di Nasional," tegasnya. (dha)