JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KESEHATAN
Typography
DENPASAR - fajarbali.com | Gangguan kesehatan mental yang terjadi selama pandemi dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti ketakutan terhadap wabah, rasa terasing selama menjalani karantina, kesedihan dan kesepian karena jauh dari keluarga atau orang yang dikasihi, bahkan kecemasan akan kebutuhan hidup sehari-hari yang ditambah lagi kebingungan akibat informasi yang simpang siur.



Hal-hal tersebut tidak hanya berdampak pada orang yang telah memiliki masalah kesehatan mental, seperti depresi atau gangguan kecemasan umum, namun juga dapat memengaruhi orang yang sehat secara fisik dan mental.

Dokter Spesialis Kejiwaan RSUP Sanglah Denpasar, dr. Ida Ayu Kusuma Wardani, Sp.KJ (K), MARS, Selasa (13/10/2020) mengatakan, beberapa kelompok yang rentan mengalami stres psikologis selama pandemi virus Corona adalah anak-anak, lansia, dan petugas medis. Tekanan yang berlangsung selama pandemi ini dapat menyebabkan gangguan berupa ketakutan dan kecemasan yang berlebihan akan keselamatan diri sendiri maupun orang-orang terdekat, perubahan pola tidur dan pola makan, bosan dan stres karena terus-menerus berada di rumah, terutama pada anak-anak.

" Selain itu, sulit berkonsentrasi dan penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan juga dampak buruk dari kecemasan saat pandemi Covid-19. Dampak bahaya lainnya adalah memburuknya kesehatan fisik, terutama pada penderita penyakit kronis, seperti diabetes dan hipertensi, serta munculnya gangguan psikosomatis," ungkapnya.

Dokter Kusuma Wardani yang juga ketua panitia peringatan hari kesehatan jiwa Departemen/KSM Psikiatri FK Unud menerangkan, ada beberapa tips menjaga kesehatan mental selama pandemi virus Corona diantaranya, melakukan aktivitas fisik seperti lari kecil atau lompat di tempat. Aktivitas itu dapat dilakukan selama menjalani karantina di rumah.

"Dengan melakukan aktivitas fisik, tubuh kita akan memproduksi hormon endorfin yang dapat meredakan stres, mengurangi rasa khawatir, dan memperbaiki suasana hati. Latihan peregangan dan pernapasan juga dapat membantu kita untuk menenangkan diri. Jangan lupa untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi untuk meningkatkan sistem imun," ujarnya.

Selanjutnya mengonsumsi makanan bergizi. Konsumsilah makanan yang mengandung protein, lemak sehat, karbohidrat, vitamin, mineral, dan serat. Beragam nutrisi tersebut dapat diperoleh dari nasi dan sereal, buah-buahan, sayuran, makanan laut, daging, kacang-kacangan, serta susu.

"Bukan hanya untuk menjaga kesehatan tubuh kita, asupan nutrisi yang cukup juga dapat menjaga kesehatan mental, baik secara langsung maupun tidak langsung. Yang tak kalah pentingnya, bijaklah memilah informasi. Batasi waktu untuk menonton, membaca, atau mendengar berita mengenai pandemi, baik dari televisi maupun media sosial untuk mengurangi rasa cemas," imbuh dr Kusuma Wardani.

Meski begitu, jangan menutup diri sepenuhnya dari informasi yang penting. Pilah informasi yang dapat diterima secara kritis dan bijak. Dapatkan informasi mengenai pandemi virus Corona hanya dari sumber yang terpercaya.

"Luangkan waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga, sahabat, teman, dan rekan kerja, baik melalui pesan singkat, telepon, atau video call. Kita bisa menceritakan kekhawatiran dan kecemasan yang dirasakan. Dengan cara ini, tekanan yang kita rasakan dapat berkurang sehingga kita bisa lebih tenang," pungkasnya.

Rasa takut dan cemas memang normal dirasakan selama masa pandemi seperti ini. Namun, cobalah untuk selalu berpikir positif dan bersyukur. Jika stres dan ketakutan yang dialami terasa sangat berat, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. (dar).