JA Teline V - шаблон joomla Форекс

KESEHATAN
Typography
DENPASAR - fajarbali.com | Terapi Plasma Konvalesen yang kini kembali digaungkan sebagai salah satu terapi alternatif untuk mengobati pasien positif Covid-19 sebetulnya bukan merupakan hal baru. Terapi ini telah digunakan sejak satu abad yang lalu untuk mengobati banyak penyakit, termasuk difteri, SARS, MERS, dan flu burung.


Di Bali sendiri, terapi plasma konvalesen sudah dapat dilakukan di Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) RSUP Sanglah, Denpasar dan di RS PTN Unud Jimbaran, dan rencananya akan ditambah di RSUD Bali Mandara. Terapi plasma konvalesen merupakan bentuk vaksinasi pasif dari pasien Covid-19 yang telah dinyatakan sembuh kemudian disalurkan darahnya kepada pasien Covid-19 yang masih dalam keadaan positif Covid-19.

Direktur RS PTN Unud, Prof Dr dr Dewa Putu Gede Purwa Samatra, Sp.S(K) mengatakan, pengambilan plasma lebih baik dilakukan kepada pendonor yang merupakan pasien Covid-19 yang sudah dinyatakan sehat. Terapi plasma konvaselen ini tidak diberi kepada semua pasien positif Covid-19. Terapi ini hanya diberikan untuk pasien-pasien yang dengan gejala berat atau kondisi kritis.

"Donor Plasma tersebut diberikan sebanyak 200cc kepada pasien Covid-19 dengan gejala berat untuk membantu mempercepat penyembuhan, bukan untuk pencegahan. Tapi, terapi plasma konvaselen ini menjadi alternatif pengobatan hingga ditemukan vaksin," ujarnya, Selasa (29/9/2020) saat ditemui disela-sela acara donor darah plasma konvalesen, di aula Makorem 163/Wirasatya, Denpasar.

Purwa Samatra menegaskan, metode terapi plasma konvalesen menggunakan plasma darah pasien Covid-19 yang telah sembuh, hal ini dikarenakan darah pasien Covid-19 yang telah sembuh mengandung kekebalan atau antibodi.

"Maka, dengan terapi plasma konvalesen ini diharapkan antibodi pasien Covid-19 yang sudah sehat bisa membantu pasien yang masih sakit untuk mengatasi penyakitnya. Manfaat lain dari terapi plasma konvalesen adalah memiliki prosesnya relatif mudah dan cepat," terangnya.

Pihaknya menambahkan, walaupun terapi ini cukup efektif untuk mengobati pasien Covid-19, namun pihaknya mengakui bila saat ini kendala yang dialami adalah kesulitan untuk mendapatkan pendonor. Hal tersebut dikarenakan pasien yang sudah sembuh masih enggan untuk melakukan donor. Maka dari itu, pihaknya bersama Dinas Kesehatan Bali, PMI Bali, maupun TNI/Polri terus melakukan sosialiasi dan edukasi agar pasien-pasien yang sudah sembuh mau mendonorkan darahnya untuk pasien yang masih terjangkit.

"Kami berharap, pasien yang telah sembuh dari Covid-19 bersedia menjadi pendonor darah plasma. Selain untuk memperoleh Kesehatan yang lebih prima. Pendonor secara langsung juga dapat menjadi pahlawan bagi mereka yang membutuhkan pengobatan," pungkasnya. (dar).