JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BUDAYA
Typography

DENPASAR-fajarbali.com | “Pesan kita di sini adalah merevitalisasi kembali sendratari yang sudah kita miliki di tahun 60-an yang diciptakan oleh Pak Beratha,” tutur I Wayan Dibia selaku arsitek garapan Sendratari Jayaprana pada gelar Bali Mandara Mahalango V di Wantilan Taman Budaya, Denpasar, Sabtu (25/8/2018).

Prof. I Wayan Dibia selaku pengamat sekaligus pelaku seni menilai sendratari masa kini kian mengalami pergeseran. Yang paling menonjol, penggunaan properti yang berlebihan membuat esensi sendratari tenggelam. Konsep sendratari di masa kini membuat keinginan Prof. Dibia merevitalisasi sendratari asli Bali kian membuncah.

“Selama ini konsep sendratari sudah kadung disalahkan, kadung sudah diambil oleh permainan properti yang besar-besar dan dalang yang begitu kuat,” ungkap Dibia ditemui usai pertunjukan. 

Sejatinya, Dibia menilai sendratari tak pernah menggunakan properti yang berlebihan. Namun demikian, entah dari mana bermula, kini sendratari membelok menuju permainan properti, sehingga dikatakannya telah melupakan esensi sendratari.

“Maka dari itu, kami sajikan 'Inilah konsep sendratari yang sebenarnya' antara musik dengan tari itu terkait betul. Satu saja lepas (makna sendratari), semuanya akan lepas,” terang Dibia.

Sementara itu, tim kurator Bali Mandara Nawantya, Prof. I Made Bandem menuturkan Sendratari Jayaparana diciptakan pada 1962. Menurut dia, sendratari di Bali kian bermunculan tepat setelah Jawa memiliki Sendratari yang kental kisah Ramayana.

“Mendikbud kala itu, Prof. Dr. Triyono menyarankan agar Bali membuat sendratari juga, dan diputuskanlah menggunakan cerita Jayaprana karena ini cerita asli Bali. Ceritanya tepatnya di Bali Utara,” ungkap Bandem. 

Masih membekas diingatan Bandem, sendratari itu pun pertama kali ditampilkan pada 30 September 1962 dengan durasi yang lebih singkat. “Waktu pertama kali dipentaskan saya ikut main, dan bagi saya untuk hari ini benar-benar garapan yang membangkitkan sendratari Bali,” tambah Bandem bersemangat.

Senada dengan Dibia, Prof. Bandem pun menuturkan dengan kembalinya esensi sendratari khas Bali diharapkan dapat menepis penggunaan properti yang berlebihan.

Ditamabahkan, penggunan properti jangan sampai menggagalkan fokus penonton pada tari, tabuh, dan narasi dalam garapan. Tak hanya itu, bagi Bandem pelestarian busana khas Bali seperti endek dan songket juga dapat dilakukan melalui gelaran sendratari.

"Tak hanya revitalisasi garapan yang membawa masyarakat kembali akan esensi sendratari ini pun berusaha mengingatkan kepada para seniman bahwa berkesenian itu tidaklah mahal," tandasnya. (eka)