HUKUM & KRIMINAL
Typography

DENPASAR-fajarbali.com | Pria kelahiran Amarasi, Nusa Tenggara Timur (NTT) bernama Yustinus Mulianto Jegalut alias Into yang diseret ke pengadilan sebagai terdakwa karena melempar anak usia 15 tahun berinisial I Komang JS, divonis lima bulan penjara. 

Vonis majelis hakim pimpinan I Gede Ginarsa ini lebih jugaringan satu bulan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum Ni Putu Trisna Dewi yang sebelumnya menuntun terdakwa dengan pidana penjara selama enam bulan. 

Dalam sidang, Selasa (18/6) kemarin, majelis hakim dalam amar putusannya menyatakan sependapat dengan jaksa yang menyebut bahwa terdakwa terbukti bersalah melakukan tidak pidana  sebagaimana dalam dakwaan kesatu.

Yaitu melakukan tindak pidana penganiayaan terhadap anak. Perbuatan terdakwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 ayat (1) UU No. 17 tahun 2016 tantang Penetapan Peraturan Pengganti UU No. 1 tahun 2016 tantang Perubahan kedua atas UU No. 23 tentang Perlindungan Anak. 

"Oleh karena itu menghukum terdakwa Yustinus Mulianto Jegalut alias Into dengan pidana penjara selama lima bulan," tegas hakim Ginarsa dalam amar putusannya yang dibacakan dihadapan terdakwa. 

"Bagaimana, apakah terdakwa menerima putusan ini, kalau tidak menerima bisa mengajukan upaya hukum banding," tanya hakim yang dijawab terdakwa menerima. Begitu pula dengan jaksa juga menyatakan menerima. 

Sementara itu sebagaimana dalam dakwaan terungkap, kasus yang menengah terdakwa ini berawal saat saksi korban pada tanggal 23 Februari 2019 pukul 19.00 WITA pergi ke rumah Pak Anjelo Santika untuk menghadiri acara ulang tahun. 

"Sampai di acara ulangtahun, korban juga bertemu dengan empat orang suporter sepak bola Lamongan," sebut jaksa Kejari Badung itu dalam dakwaannya. 

Tida lama kemudian terdakwa pergi meninggalkan rumah Pak Anjelo dengan maksud untuk membeli makan. Tapi sampai di Jalan darah Gatsu Barat, saksi korban dicegat oleh terdakwa yang saat itu bersama dengan saksi Yamin Elon Thon. 

"Namun saat itu saksi korban dibiarkan pergi karena salah satu teman terdakwa mengatakan bahwa korban tidak bersalah, " urai jaksa. Usai makan, saksi korban kembali ke rumah Pak Anjelo. 

Tida lama kemudian, empat orang suporter sepak bola Lamongan juga kembali ke rumah Pak Anjelo sambil berteriak minta tolong karena dicegat saat pergi dari rumah Pak Anjelo. 

Nah, tidak lama kemudian datang terdakwa bersama teman-temanya dengan membawa kayu dan pecahan Benton. Terdakwa bersama teman-temanya lalu melempari terdakwa dan juga para suporter sepak bola Lamongan. (eli/Fajar Bali)