JA Teline V - шаблон joomla Форекс

DENPASAR
Typography

DENPASAR - fajarbali.com | Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Agama Seni dan Budaya (SM FIASB), UNHI, Jumat (20/12) lalu menggelar seminar bertemakan 'Pengakuan Para Penulis Tantra.' Seminar ini mengundang tiga penulis buku Tantra di Bali, diantaranya Budi Utama (penulis Lokalisasi Tantra di Bali), Ketut Sandika (penulis Tantra, Ilmu Kuno) dan Putu Yudiantara (penulis Meditasi Tantra). Kegiatan dibuka Dekan Fakuktas Ilmu Agama Seni dan Budaya, Drs Putu Sarjana yang dihadiri mahasiswa UNHI, perserta umum dan undangan dari kampus lain.

 

 

Hadir pula penekun spirititual, Bayu Gendeng Pamungkas beserta penekun Yoga di Bali. Sebagai moderator, Akademisi UNHI, GA Sindhu Gitananda yang juga menekuni ajaran Samkya. Dalam pengantarnya, Sindhu Gitananda menyebutkan kata Tantra sendiri memiliki banyak definisi, namun pendekatannya pada pemujaan kepada sakti dan persinggungan terhadap ajaran Siwaisme. Di Bali sendiri Tantra masuk ke dalam Siwa Sidanta yang asal.ajarannya dari India, bersumber dari Upanisad.

 

Narasumber pertama, Ketut Sandika menjelaskan Tantra sendiri tidak menggunakan otoritas Weda. "Walau secara tegas tidak.menyebut Tantra dalam ajaran, namun dalam doa-doa penutup, ada kalimat-kalimat doa yang nersumber dari Tantra," Jelas Sandika. Di Indonesia sendiri diduga Tantra mulai berkembang sejak abad ke 5 sampai abad ke 11. Diyakini, Tantra itu sebagai gugatan atas agama (kepercayaan) di nusantara yang beberapa istilah disebut juga Sutra. Bahkan disebutnya, Tantra sendiri berkembang di Nepal, India. “Kita cenderung berkiblat ke India, namun di belahan darerah lain, juga berkembang ilmu Tantra sejalan dengan Budhiima Tibet,” jelas Ketut Sandika.

 

Narasumber Budi Utama yang menulis ‘Lokalisasi Tantra di Bali’ menyebutkan ilmu Tantra yang berkembang di Bali, saat ini sudah diperhalus. Dimana pemujaan terhadap genital pria dan wanita diperhalus dalam bentuk bangunan. Di sisi lain, ilmu Tantra disebutnya sebagai pusat studinya Buddha di Nusantara sekitar abad ke VI, mengingat Buddha sendiri berkembang pesat di Nusantara. “Bahkan dalam prakteknya saat pernikahan adat Bali, Tipat-Bantal bias disebut sebagai pelaksanaan ajaran Tantra,” jelasnya. Disamping itu, ritual-ritual local di Bali pada masa kuno disebutkan sejalan dengan praktek-praktek ajaran Tantra.

 

Narasumber ketiga, Putu Yudiantara menjelaskan mengartikan makna Tantra itu sama dengan mempersempit makna Tantra itu sendiri. Dijelaskannya, masyarakat umum menyebut Tantra sebagai ilmu hitam, maksiat dan pengumbaran seksualitas. “Ini didasari atas pelaksanaan Lima Ma di Bali. Sesungguhnya Tantra itu ajaran pencarian jati diri ke dalam, menyelami diri sendiri,” terangnya. Bahkan dengan tegas dinyatakan Tantra itu sebagai ajaran kebijakan. Yudiantara sendiri juga menyebutkan lontar-lontar di Bali walau secara ekplisit tidak menyebut ajaran Tantra, namun ajaran dan prakteknya bernuansa Tantra. Dikatakan sebagai pencarian jati diri, mengingat dalam tubuh manusia terdapat hurup-hurup suci, Dasaksara. Dalam penutupnya disebutkan, Nusantara sendiri adalah sebagai rumah perjamuan ajaran Tantra baik yang bersumber dari India, Tibet, atau negara lain yang sama-sama memiliki tradisi Tantriisme. Di Bali sendiri, Tantra direpresentasikan dalam berbagai bentuk dan masuk ke dalam aktifitas social.(gds).