JA Teline V - шаблон joomla Форекс

DENPASAR
Typography

DENPASAR-fajarbali.com | Kesabaran majelis hakim PN Denpasar benar-benar diuji saat menyidangkan terdakwa Auj-E Taqaddas, turis asal British Citizen yang menjadi terdakwa karena menampar petugas Imigrasi. 

Pasalnya, terdakwa Auj-E Taqaddas yang tidak didampingi pengacara ini terlalu banyak mangajukan permintaan yang tidak mungkin dikabulkan oleh majelis hakim. 

Awalnya, saat ditanya majelis apakah terdakwa didampingi pengacara, melalui peterjemahnya, terdakwa menjawab menghadapi sendiri dan dirinya juga bertidak sebagai pengacara. 

Kesabaran majelis hakim, diuji usai terdakwa mendengarkan dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Waher Tulus Jaya Torihoran. Saat itu Hakim Estar bertanya kepada terdakwa apakah mengajukan keberatan atau tidak, dijawab oleh terdakwa iya. 

"Apa keberatan terdakwa," tanya hakim yang dijawab bahwa terdakwa tidak sependapat dengan dakwaan jaksa karena menurut terdakwa kronoligis kejadian tidak seperti apa yang dipaparkan jaksa dalam dakwaan. 

Namun majelis hakim mengatakan, keberatan terdakwa sudah masuk pada pokok materi yang harus dibuktikan dalam persidangan. Namun, terdakwa tetap nogotot dan seperti ingin menyampaikan sesuatu. 

Tapi majelis hakim menjelaskan bahwa, apa yang akan disampaikan terdakwa, bisa disampaikan setelah jaksa menghadirkan saksi-saksi. "Nanti terdakwa akan kita beri waktu untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikan, saat ini giliran jaksa dulu,"ujar hakim Estar. 

Terdakwa tidak terima dan mengatakan dia mempunyai hak untuk berbicara dan menyampaikan sesuatu di muka sidang. "Semua sudah diatur oleh sitem hukum yang ada di Indonesia, jadi terdakwa juga harus ikut aturan ya," timpal hakim anggota, Novita Riama. 

Tidak sampai di situ, saat sidang akan ditutup, terdakwa kembali mengangkat tangan tanda ingin menyampaikan sesuatu. Kali ini terdakwa meminta paspornya yang selama ini ditahan untuk dikembalikan.

Tentu saja permintaan itu tidak dikabulkan karena persidangan masih berjalan. "Nanti kami pertimbangkan permitaan terdakwa," jawab hakim sembari mengetok palunya. 

Di luar ruang sidang, keributan kembali terjadi antara terdakwa dengan jaksa. Entah apa persoalan sebenarnya, mendadak terdakwa mengatakan tidak suka dengan jaksa yang menyidangkanya. 

Sementara itu sebagaimana dalam dakwaan jaksa yang dibacakan terungkap,  terdakwa diadili karena menampar petugas Imigrasi. Kenjadian ini terjadi pada tanggal 28 Juli 2018 di raung pemeriksaan Imigrasi, Bandara Ngurah Rai. 

Kasus ini berawal saat terdakwa Auj-E Taqaddas akan terbang ke Singapura, namun saat dilakukan pemeriksaan dukumen oleh petugas Imigrasi, diketaui bahwa terdakwa telah over sty (melebihi izin tinggal) selama 3 bulan. 

Atas temuan itu, petugas bernama Bima membawa terdakwa ke ruang pemeriksaan. Sampai di ruang pemeriksaan, rekan Bima, yaitu Andhika Rahmad Santoso mengambil paspor milik terdakwa. 

Saat itu terdakwa sudah dalam keadaan emosi. Kemudian saksi Andhika menyerahkan paspor terdakwa kepada Ardyansyah. Saat itu saksi Ardyansyah memberikan penjelaskan kepada terdakwa bahawa terdakwa tidak bisa berangkat karena harus menjalani pemeriksaan. 

Namun terdakwa malah marah-marah dan memaki serta mengeluarkan kata-kata kotor. Sambil marah-marah, terdakwa berusaha merampas paspor yang dipegang oleh Ardyansyah, tapi tidak berhasil. 

"Karena tidak berhasil marampas Paspornya, terdakwa langsung menampar pipi kiri Ardyansyah. Tak hanya itu, terdakwa juga berusaha mengambil router wifi dan mengarahkan kearah Ardyansyah, namun bisa dihalangi. 

Saksi Ardyansyah sendiri, saat ditampar sedang menjalankan tugas dan menjabat sebagai Assitant Supervisor pada uni A Imigrasi Ngurah Rai. Akibat perbuatanya, terdakwa dijerat dengan Pasal 212 ayat (1) KUP. (eli)