JA Teline V - шаблон joomla Форекс

DENPASAR
Typography

DENPASAR-fajarbali.com | Seorang oknum guru di salah satu SMA Swasta di Bali bernama Putu Arief Mahendra alias Arif yang didakwa melakukan persetubuhan dengan anak didiknya (anak dibawah umur)  Kamis (15/11/2018) divonis 6 tahun dan 6 bulan (6,5 tahun) penjara. 

Majelis hakim PN Denpasar pimpinan Novita Riama dalam amar putusanya yang dibacakan dihadapan terdakwa menyatakan, terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana melakukan persetubuhan dengan anak dibawah umur secara berkelanjutan. 

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana pada Pasal 81 ayat (2) UU Perlindungan Anak Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. "Menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 6 tahun dan 6 bulan,"sebut Hakim Novita Riaman dalam putusnya. 

Selain menghukum dengan hukuman penjara, majelis yang dalam amar putusnya menyatakan tidak ada alasan pemaaf atau pembenar yang bisa membebaskan terdakwa ini juga menghukum terdakwa untuk membayar denda Rp 1 milir subsider 4 bulan kurungan. 

Putusan ini lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang pada sidang sebelun menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 8 tahun. 

Atas putusan itu, terdakwa yang dari awal persidngan hingga akhir hanya menundukan kepala, melalui kuasa hukumnya, Iswahyudi Eddy P dan Ketut Rinata mengatakan pikir-pikir. Hal senada juga menjadi sikap jaksa. 

Diberitakan sebelumnya, kasus yang sempat viral di media sosial ini berawal saat terdakwa yang merupakan wakil kepala sekolah bagian kesiswaan sekaligus guru seni mengenal korban yang berinisial SCN. Awalnya korban menanyakan kepada terdakwa siapa pasangan menarinya. 

Namun bukan jawaban yang dibadapat malah terdakwa merayu korban. Terdakwa malah mengajak korban ke dalam ruang kelas untuk ciuman. Korban awalnya tidak mau, tapi karena diancam akhirnya korban pun menuruti keinginan terdakwa. 

Tak hanya itu korban pun mau menuruti permintaan terdakwa untuk melakukan onani. Setelah kejadian ini, terdakwa makin berani menghubungi korban melalui aplikasi line, bahkan mengajak korban melakukan hubungan badan. 

Pada saat persiapan HUT tempat sekolah terdakwa bekerja, tepatnya bulan Januari 2018 terdakwa menemui korban dan mengajak korban ke hotel untuk melakukan persetubuhan sambil mengancam kalau tidak mau korban tidak akan diikutkan menari. 

Singkat cerita terdakwa menghubungi korban melalui telepon sambil melakukan pengancaman dan mengatakan terdakwa sudah berada di hotel dan meminta korban untuk datang. 

Karena takut dengan ancaman terdakwa, korban akhirnya menemuinya di salah satu hotel di kawasan Renon. Sampai di hotel terdakwa yang sudah menunggu korban langsung melancarkan aksinya.  

Tak hanya sekali, dalam waktu yang berbeda, terdakwa juga kembali mengajak korban melakukan hal yang sama di tempat yang sama. Dan diaksinya yang ketiga, terdakwa mengajak korban lain untuk melakukan hubungan intim bertiga (threesome) . 

Perbuatan bejat terdakwa terungkap saat orang tua korban mendegar ada yang tidak beres antara anaknya dan gurunya. Hingga akhirnya orang tua korban melaporkan kejadian ini ke polisi. (eli)