JA Teline V - шаблон joomla Форекс

DENPASAR
Typography

DENPASAR-fajarbali.com | Penyebaran Covid-19 di Bali belakangan mengalami peningkatan. Tak hanya itu saja, jumlah angka meninggal juga ikut meningkat signifikan. Sampai saat ini saja, angka pasien meninggal mencapai 147 orang.

Untuk menekan dan mencegah penyebaran agar tidak semakin ganas, Pemprov Bali diminta untuk segera mengambil kebijakan ekstrim agar menghentikan penularan melalui transmisi lokal. Salah satunya dengan melakukak uji SWAB bagi masyarakat Bali. Mengingat, angka pasien di RS sudah mencapai 100 persen, tertinggi di Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Anggota DPR RI Dapil Bali Ketut Kariyasa Adnyana. Kata dia, selama ini Pemprov Bali telah berjuang dan bekerja keras dalam penanganan Covid-19. "Masyarakat Bali sebagian besar bekerja di sektor jasa pariwisata, Bali terdampak ekonomi yang paling parah apalagi wisatawan asing dilarang ke Bali. Kalau pandemi Covid-19 berkepanjangan Masyarakat akan makan apa? Saya percaya dengan kerja cepat gubernur, Pemerintah Provinsi Bali dibawah komando Gubernur Bali Wayan Koster harus berani melakukan tes SWAB massal kepada seluruh warga, " katanya, Kamis (10/09).

Tes SWAB massal, terang dia, bisa menjadi langkah untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona melalui transmisi lokal. Ini juga sebagai upaya lebih lanjut sembari menunggu vaksin. Mengingat, vaksin produksi Indonesia baru bisa diproduksi secara massal pada tahun 2022 mendatang. “Saya usulkan tes massal,  75 persen bisa dilakukan tindakan antisipasi. Sebab orang tanpa gejala (OTG) juga sangat banyak yang bisa menyebarkan virus pada keluarganya, " paparnya.

Politisi asal Buleleng ini menyatakan, sejak Bali menerapkan Tatanan Kehidupan Era Baru atau New Normal, banyak masyarakat yang menganggap remeh dan mengabaikan aturan protokol kesehatan. Belum lagi sekarang ditemukan mutasi virus Corona D614G atau G614 yang telah ditemukan di Indonesia. Diindikasikan memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi dari virus aslinya. "Ada yang menyebutkan penyebarannya 10 kali lebih cepat dari Covid-19, virus ini lebih berbahaya lagi dari penyebaran Covid-19, masyarakat harus waspada sebab kita khawatirkan sepuluh kali lebih menular," paparnya.

Lebih lanjut, Pandemi Covid-19 tidak bisa diprediksi sampai kapan akan berakhir. Begitu juga dengan masa puncaknya. Maka dari itu, masyarakat diharapkan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dan mengikuti anjuran pemerintah. Disamping itu, Pemprov Bali bersama Pemda 9 kabupaten/kota telah berusaha keras untuk melakukan penanganan dan pemulihan ekonomi. Baik berupa kebijakan serta bantuan kepada masyarakat terdampak. Begitu juga dengan pemerintah pusat yang telah menggelontorkan berbagai stimulus, baik Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat miskin, bantuan lewat program keluarga harapan (PKH)BLT kepada pekerja yang mendapatkan gaji dibawah Rp 5 juta lewat program BPJS Ketenagakerjaan, Kartu Pra Kerja bagi tenaga kerja yang kena PHK termasuk bantuan modal usaha kepada UMKM di Bali. 

Terakhir, Kariyasa Adnyana juga memberikan perhatian dibeberapa Pintu Masuk Bali. Ia meminta agar ada penjagaan ketat dilokasi tempat-tempat tersebut. Bali merupakan tempat strategis bagi para perantau untuk mengadu nasib. Apalagi Bali yang mengandalkan sektor pariwisata. "Kalau kita tidak mau disiplin, susah pariwisata Bali bisa bangkit. Apalagi 59 negara di dunia sudah melarang warganya bepergian keluar termasuk tujuan Bali. Artinya untuk sekarang ini kesehatan menjadi faktor utama, kalau Bali bisa bebas Covid, ekononi Bali akan segera bisa bangkit kembali," tutup Anggota Komisi IX DPR RI ini. (her)

  •