JA Teline V - шаблон joomla Форекс

BADUNG
Typography

MANGUPURA-fajarbali.com | Gempa bumi berkekuatan 6.0 Magnitudo mengguncang Bali dan sekitarnya, Selasa (16/7/2019) pagi mengakibatkan sejumlah bangunan rusak. Salah satunya rumah warga pra sejahtera di Desa Taman, Kecamatan Abiansemal, Badung.

Kerusakan rumah Jro Made Taman semakin parah pasca gempa mengguncang Bali. Pantauan di lokasi, kerusakan rumah yang berada di lahan perkebunan itu cukup parah. Kayu penyangga berikut gentengnya berhamburan.

Menurut  Jro Made Taman yang ditemui, Selasa (16/7) saat kejadian ia tengah memasak sarapan di dapur yang terlihat jauh dari kata layak itu. Sebagian bangunan bahkan roboh. Bangunan kecil tersebut di dalamnya hanya berisi satu tungku api tradisional dan satu tempat nasi.
“Daweg linuh tiyang kari nyakan (saat gempa terjadi saya sedang masak-red),” ucap nenek usia 70 tahun itu.

Ia menuturkan, saat mengetahui terjadi gempa, ia langsung keluar dapur untuk menghindari reruntuhan atap genteng. Jika tidak maka bukan tidak mungkin dirinya akan tertimpa reruntuhan genteng mengingat kondisi bangunan yang sudah tidak layak huni.

Kini, ia pun tidak bisa berbuat banyak terhadap kerusakan rumah akibat guncangan gempa tersebut. Jangankan untuk memperbaiki rumah, untuk makan sehari-hari saja, kata dia, sangat sulit. "Biasane ponakan tiyang mai nengokin ngabang baas. (Biasanya keponakan saya yang menjenguk kesini membawakan beras-red," terangnya.

Usut punya usut, kerusakan hingga menyebabkan rumah tidak lagi layak huni bukan semata karena disebabkan gempa bumi yang terjadi Selasa kemarin. Kerusakan rumah yang telah dihuni selama tujuh tahun itu karena, sang pemilik dengan usia renta tidak mampu untuk memperbaiki.

Pihaknya mengaku, sempat mengusulkan agar rumah yang tidak layak huni tersebut diperbaiki melalui program bedah rumah Pemerintah Kabupaten Badung. Hanya saja program pengentasan kemiskinan yang dicanangkan Bupati Badung tersebut tidak pernah ia dapatkan.

Akibatnya, Jro Made Taman pun tidak berani tidur di dalam rumah. Untuk tidur di malam hari ia mengaku, terkadang numpang di rumah tetangga dan sesekali pulang ke rumah suami yang juga tidak memiliki cukup kamar tidur. “Kurenan sareng mbok tiyang sungkan, (suami dan istri pertama suami saya sakit-red). Mereka yang tidur disana,” katanya

Anak tiri Jro Made Taman Ni Made Pastini mengakui, jika rumah ibunya itu sempat diajukan untuk mendapatkan bantuan bedah rumah. Namun, hingga kini bantuan tersebut tidak kunjung diterima oleh ibunya. Pihaknya pun tidak mengetahui secara pasti alasan tidak didapatkannya bantuan bedah rumah. “Rumah ini diatas tanah milik pribadi. Sampai sekarang belum dapat bedah rumah,” tuturnya.

Selain memohon bedah rumah, ia juga sempat mengajukan permohonan untuk mengikuti program PTSL untuk tanah tersebut. PTSL yang diajukan pun bernasib sama dengan program bedah rumah yang diajukan. “PTSL untuk sertifikat tidak ada kelanjutannya. Padahal petugas sudah datang untuk mengukur. Biar saja lah toh juga tanah ini tidak akan dijual,” katanya lagi.

Pihaknya pun tidak habis pikir, atas kondisi yang terjadi. Menurutnya, rumah yang layak untuk di bedah justru tidak dibedah, yang kondisi ekonominya mampu malah mendapatkan program bedah rumah. “Yang mampu malah dapat bedah rumah, tapi ibu saya kok tidak,” keluhnya. (put)