JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Kisah Widiasih Raih Perak di Jepang, Difabel Juga Bisa Juara

OLAHRAGA
Typography

ATLET Angkat Berat Difabel Bali, Ni Nengah Widiasih berkaca-kaca ketika menceritakan kisahnya kala bertanding di Kitakyushu 2018 World Para Powerlifting Asian-Oceania Open Championships di Kitakyushu, Jepang.

Raut wajahnya memerah. Ia menangis haru karena bisa membawa pulang medali perak, walau ia dikalahkan atlet China Guo Lingling, 8 September lalu.

Widiasih adalah seorang atlet angkat berat difabel Bali yang mewakili Indonesia di Kitakyushu 2018 World Para Powerlifting Asian-Oceania Open Championships. Ia berlaga di kelas 45 kg putri.

Keterbatasan fisik tak membuat ia goyah. Kekurangan itu membuat dirinya terpacu untuk bisa menyamai kemampuan orang lain yang normal tanpa kekurangan apapun.

Tak tanggung-tanggung, ia memilih olahraga angkat berat. Sebagian orang mungkin meremehkan kaum difabel yang dianggap tak akan bisa menekuni olahraga tersebut.

"Saya harus latihan lebih keras lagi, lebih disiplin lagi, gak boleh gampang nyerah karena hal yang paling menyakitkan adalah kegagalan. Difabel juga harus bisa juara," tegas atlet asal Karangasem itu.

Saat dihubungi pada Senin (10/9), ia mengaku sangat senang. "Emas pantas untuk dia (Guo Lingling). Dia sangat kuat dan dia memotivasi saya untuk latihan lebih keras lagi supaya saya juga layak ada di posisi itu,” ungkapnya ketika bercerita percakapan mereka usai laga.

Ia mengaku mendapat medali perak sudah jadi target. "Karena sudah tahu di putaran kedua kekuatan lawan, memang dari kemarin target minimal perak,” terangnya. 

Widiasih berhasil mengangkat berat dengan total 101 kg. Total berat yang ia angkat pada kejuaraan tersebut pun menembus limit total berat yang ia punya sebelumnya, yakni 97 kg pada kejuaraan di Perancis beberapa waktu.

Pada ajang Asian Para Games 2018, Widiasih akan memperbaiki staminanya agar bisa menjaga tren dan meningkatkan limit total berat yang ia peroleh di Jepang. (eka)