JA Teline V - шаблон joomla Форекс

DENPASAR
Typography

DENPASAR-fajarbali.com | Seorang kakek bernama Johann Suganda (60) harus berhadapan dengan Pengadilan karena diduga melakukan tindak pidana penpuan den penggelapan. Tak tanggung-tanggung, uang yang diduga ditilep terdakwa juga cukup banyak, yaitu 2,4 miliar. 

Dalam sidang pimpinan Hakim Novita Riama itu sudah masuk pada agenda pemeriksaan saksi sekaligus pemeriksaan terdakwa. Dihadapan majelis hakim sepertinya terdakwa tetap ngotot tidak bersalah. 

Sementara itu sebagaimana dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ni Ketut Hevy Yushantini memaparkan, kasus yang membelit terdakwa ini berawal saat terdakwa menemui korban Ali Haris di Ali Haris Property pada tanggal 1 Maret 2014 silam. 

Saat itu kepada korban terdakwa menawarkan sebidang tanah yang disewanya untuk diover kontrak kepada korban. Kepada korban terdakwa mengatakan bahwa tanah yang disewanya itu memiliki prospek yang bagus untuk membuat vila dan perumahan. 

Kemudian terdakwa bersama korban melihat lokasi tanah yang dimaksud yaitu di Umalas, Kerobokan, Badung. "Saksi korban sempat bertanya kepada terdakwa soal perizinan untuk membangun bila dan  perumahan diatasi tanah yabg disewa terdakwa tersebut,"ungkap JPU. 

Oleh terdakwa dijawab tidak ada masalah untuk pembangunan vila maupun perumahan. Terdakwa lalu mengatakan luas tanah yang disewanya itu adalah 4.175 M2. Tapi setelah dilakukan pengukuran ternyata luasnya hanya 3.360 M2. 

 

"Saat itu terdekat juga berjanji akan mengurus perijinan membangun vila dan perumahan,"sebut Jaksa Kejari Denpasar itu. Singkat cerita korban pun bersedia mengambil alih kontrak tanah tersebut dari terdakwa dengan nilai sewa Rp 8.835 miliar. 

Korban lalu membayar uang sewa tersebut secara bertahap hingga mencapai Rp 4,5 miliar. Setelah itu korban bertanya kepada terdakwa terkait izin pembuatan vila dan perumahan yang terdakwa janjikan. 

Namun terdakwa melah meminta saksi korban untuk membayar lunas nilai sewa tanah yang sudah mereka sepakati. Korban yang merasa curiga dengan gelagat terdakwa lalu meminta saksi Nasar Talib untuk mengecak apakah terdakwa benar mengurus izin yang dijanjikan. 

Setelah dilakukan pengecekan, ternyata terdakwa tidak pernah melakukan pengurusan perizinan yang dijanjikan. Dan parahnya lagi, sesuai dengan Perda Tata Ruang, sebagain tanah yang disebelah terakwa itu dibisa dibangun perumahan atau vila karena masuk dalam kawasan Budi daya pangan. 

Korban yang merasa tertipu lalu menghubungi terdakwa dan meminta kembali uang Rp 4,5 miliar yang sudah korban bayarkan kepada terdakwa. Tapi terdakwa malah menjawab tidak miliki uang. Akibat perbuatannya terdekat dijerat dengan Pasal 372 dan 378 KUHP.  (eli)