JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI
Typography

DENPASAR - fajarbali.com | Pandemi Covid-19 yang telah mewabah keseluruh dunia membuat sektor pariwisata mati suri. Hal tersebut tentu sangat menguncang perekonomian Bali yang selama ini menggantungkan pendapatannya dari kunjungan wisatawan.

Tidak hanya berdampak pada pariwisata, sektor pertanian yang paling kuat saat ini pun terdampak, mengingat hasil pertanian sangat bergantung pada aktivitas pariwisata di Bali.

Hal tersebut terbukti dari anjloknya harga beberapa produk pertanian Bali di tengah pandemi, mulai dari sayur hingga buah yang pasokannya melimpah di pasaran sejak beberapa bulan terakhir. Semua dikarenakan serapan di sektor pariwisata minim serta lemahnya daya beli masyarakat karena tidak sedikit yang penghasilannya bergantung pada pariwisata.

Akademisi Universitas Udayana, Prof. Dr. Made Antara., MS., mengatakan, pertanian Bali memiliki keterkaitan langsung (direct linkages) dengan pariwisata berupa pasokan produk-produk pertanian untuk hotel, villa dan restoran. Begitu juga, pertanian memiliki keterkaitan tidak langsung (indirect linkages) dengan pariwisata berupa pasokan produk-produk pertanian di pasar-pasar umum dan swalayan untuk masyarakat atau rumah tangga yang bekerja di pariwisata. Serta memiliki keterkaitan ikutan (induced linakges) memasok produk untuk warung-warung atau restoran yang dikembangkan oleh pekerja pariwisata.

“Jika pariwisata berkembang dan maju ditandai oleh peningkatan kunjungan wisatawan dan tingkat hunian hotel (occupation rate), maka peluang pasar produk-produk pertanian dan industri kecil-menengah makin besar, sehingga kedua sektor pertanian dan industri kecil yang produk untuk memasok pariwisata juga kian berkembang,” ujarnya.

Dengan adanya pandemi Covid-19 ini, membuat penurunan kunjungan, bahkan tidak ada lagi kunjungan beberapa bulan ini, diikuti penurunan tingkat hunian hotel, restoran banyak tutup hingga berdampak pada banyak karyawan dirumahkan, menandakan sebuah kolaps atau bangkrutnya pariwisata untuk sementara.

“Dampak lanjutannya adalah menurunnya bahkan tidak adanya permintaan produk-produk pertanian dan industri kecil-menengah oleh pariwisata dan sektor-sektor yang terkait dengan pariwisata, akibatnya di tingkat produksi juga lesu atau mati suri, sehingga dapat diistilahkan pertanian Bali pingsan (lupa diri sementara) dan industri kecil-menengah sempoyongan,” terangnya.

Demikian pula, kolapsnya pariwisata dikatakan menurunkan daya beli masyarakat Bali secara umum, karena banyak masyarakat Bali aktivitasnya terkait dengan pekerja pariwisata. Namun menurut Prof. Antara, semuanya bersifat sementara, tergantung pada cepat atau lambatnya pemulihan (recovery) pariwisata dari kolaps. (dar).