EKONOMI
Typography

DENPASAR - fajarbali.com | Kasus positif Covid-19 di Bali khususnya di Kota Denpasar hingga saat ini belum menunjukkan tren penurunan. Adanya kluster baru yaitu pasar tradisional memunculkan kekhawatiran, sebab pasar menjadi tempat bertemunya banyak orang yang terkadang tidak mengindahkan protokol kesehatan.

 

 

Ditanya soal apakah penutupan pasar ideal dilakukan dalam upaya memutus rantai penyebaran Covid-19? Akademisi Universitas Udayana Prof. Dr. Made Antara, M.S., berpendapat, antara menjaga kesehatan dan pergerakaan atau aktivitas di pasar tidaklah bisa ditiadakan. Dalam artian jika pasar tradisional ditutup dalam kurun waktu 2 minggu untuk menghentikan penyebaran Covid-19, akan menimbulkan masalah baru misalnya kelaparan.

 

"Kebijakan menutup pasar tradisional di perkotaan seperti Denpasar akan mengganggu kehidupan masyarakat dan perekonomian. Sebagian besar masyarakat kota dan sekitarnya mengandalkan pasar tradisional sebagai sumber pembelian bahan pangan, apabila di tutup maka mereka akan menjadi kekurangan pangan dan bisa memicu kelaparan,” ujarnya.

 

Ia juga mengatakan, masyarakat produsen pedesaan dan perkotaan yang mengandalkan pasar tradisonal sebagai lokasi penjualan produknya akan kehilangan pasar. Produknya tidak terjual, berarti kehilangan pendapatan yang diandalkan untuk membeli produk-produk lain kebutuhan rumah tangga.

 

"Ini memang menjadi dilema yang dihadapi pemerintah. Jika mementingkan kesehatan berarti pasar tradisional harus ditutup, maka masyarakat akan kesulitan mencari sumber bahan pangan. Ini sama dengan membiarkan masyarakat mati kelaparan. Namun jika mementingkan ekonomi, berarti membiarkan pasar tradisional dibuka atau beraktivitas seperti saat ini yang pengunjungnya kurang disiplin dan kurang taat menerapkan protokol kesehatan, maka pasar tradisional akan tetap menjadi kluster penularan Covid-19," ungkapnya.

 

Oleh karena itu, lanjut prof. Antara, tidak bisa mementingkan salah satu dengan meniadakan yang lain karena akan menimbulkan masalah besar. Dengan demikian, solusi dari permasalahan ini adalah jalan tengah yaitu sama-sama mementingkan kesehatan dan ekonomi, dengan membiarkan pasar tradisional terbuka seperti saat ini atau dilonggarkan, tetapi harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat kepada semua pengunjung. 

 

"Seperti halnya, memeriksa suhu tubuh setiap pengunjung di pintu gerbang masuk pasar, mewajibkan setiap pengunjung memakai masker dengan memeriksa di pintu masuk pasar, setiap pengunjung yang akan masuk pasar disemprot cairan antiseptik, mewajibkan setiap pengunjung mencuci tangan dengan antiseptik yang disediakan oleh pengelola pasar, membatasi jumlah pengunjung hanya 50 persen dari kunjungan normal, menganjurkan kepada setiap pengunjung untuk menjaga jarak dengan pengunjung lainnya," terangnya.

 

Dengan  mengambil jalan tengah seperti itu, baik kesehatan maupun ekonomi sama-sama jalan, sehingga kebutuhan masyarakat akan pangan terpenuhi dan pasar tradisional sebagai kluster penularan Covid-19 dapat diminimalisir. (dar).