JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI
Typography

DENPASAR - fajarbali.com | Sebagai daerah yang sangat tergantung pada sektor pariwisata, Bali mengalami dampak besar setelah pandemi Covid-19 menghantam pulau ini sejak tiga bulan lalu. Jumlah wisatawan terus menurun bahkan kemudian nyaris tidak ada sama sekali setelah adanya penutupan penerbangan komersial maupun perhubungan darat dan laut untuk mencegah meluasnya penularan virus corona.

 

 

Ketika pandemi menghantam Bali dan pariwisata terpuruk, wacana lama pun kembali muncul, Bali sebaiknya kembali ke pertanian sebagai penopang utama pembangunan ekonominya. Selama ini, Bali dianggap terlalu menomorsatukan pariwisata dan sebaliknya, melupakan pertanian sebagai akarnya. Generasi muda, baik laki-laki maupun perempuan di Bali yang semula mengandalkan hidup dari pariwisata pun kini diharapkan kembali menggeluti pertanian karena lebih memiliki daya tahan.

 

Menanggapi hal tersebut, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali, Ny Putri Suastini Koster mengatakan, di masa pandemi Covid-19, Bali terpuruk karena hanya mengandalkan sektor pariwisata sementara sektor pertanian yang merupakan salah satu andalan Bali seperti terpinggirkan.

 

"Banyak warga memilih bekerja di sektor pariwisata dan melupakan pertanian termasuk kaum perempuan. Namun kini dengan adanya pandemi Covid-19, pertanian menjadi juru selamat Bali. Mari kita kembali galakkan pertanian Bali dan mengajak kaum perempuan maupun generasi muda untuk tidak gengsi turun ke sawah menjadi petani," ujarnya.

 

Putri Koster mengharapkan, dalam era baru ini perempuan Bali khususnya, tidak perlu lagi gengsi untuk menjadi petani. "Pandemi Covid-19 mengajak kita untuk mampu mandiri. Jangan mati karena hanya gengsi dan tidak mau terjun ke sektor pertanian," katanya.

 

Putri Koster menambahkan, Bali khususnya Kabupaten Tabanan sebelumnya dan sampai kini terkenal sebagai lumbung pangan Bali, khususnya beras. Hal tersebut harus tetap dipertahankan dengan keterlibatan perempuan untuk ikut terjun menjadi petani.

 

"Untuk tetap menjaga predikat tersebut alih fungsi lahan juga harus ditekan sehingga Bali mampu tetap berswasembada pangan. Dengan demikian, kita bisa memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Bali. Nah, kalau ada lebih baru dikirim keluar. Jangan sampai sekarang beras kita jual keluar dan kita datangkan lagi dengan harga lebih mahal. Kenapa tidak kita olah sendiri," tegasnya.

 

Menurut Putri Koster kualitas beras Bali sangat bagus dan juga sehat. untuk itu dia mengajak masyarakat Bali khususnya perempuan untuk bisa mandiri ikut terjun ke sektor pertanian seperti ikut mengolah, menanam, dan memanen hasilnya. Dengan keterlibatan perempuan dalam sektor pertanian, tentu akan menghasilkan untuk diri sendiri.

 

"Kita tidak boleh terjajah oleh teknologi seperti kasihkan bermain handphone sementara orang luar yang melakukan panen. Ayo ambil kerja itu dengan rasa tanggung jawab sehingga kita dihargai," pungkasnya. (dar).