JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI
Typography

DENPASAR - fajarbali.com | Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang cukup besar terhadap berbagai sektor, terutama di bidang usaha kuliner diantaranya usaha foodtruck. Sebagaimana kita ketahui, usaha kuliner ini memanfaatkan kendaraan sebagai fasilitas berjualan dan kerap berpindah tempat mengikuti event atau acara tertentu.

 Sejak Covid-19 merebak, praktis tidak ada lagi event yang melibatkan banyak orang. Terlebih, ada peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk meniadakan semua kegiatan yang menimbulkan keramaian. Tak ayal, para pebisnis kuliner yang tergabung dalam Komunitas Foodtruck Bali ini pun merasakan dampaknya yang cukup drastis.

 

“Pada 15 Maret kami terakhir mengikuti event, setelah itu tidak ada lagi kegiatan keramaian. Akibatnya, kami menjadi stuck, pendapatan kami langsung turun drastis hampir 100 persen. Sebelum pandemi, kami bisa mengikuti 5-6 event dalam sebulan,” ujar Ketua Komunitas Foodtruck Bali, I Komang Sugiantara Putra, Selasa (9/6/2020). 

 

Pria yang juga Pemilik Pondok Sate Mang Kakul ini menambahkan, sebanyak 44 anggota komunitas yang tersebar di seluruh Bali tetap semangat agar bisa bertahan di masa pandemi. Upaya yang dilakukan adalah mengubah strategi penjualan ke online.

 

“Kami mengolah makanan di rumah, kemudian kami promosikan di media sosial maupun door to door, sehingga kami masih bisa mendapat penghasilan. Walaupun hasilnya tidak sebesar saat wabah Corona belum mewabah, setidaknya upaya ini mampu membuat kami bertahan,” imbuhnya.

 

Disinggung soal kondisi New Normal, Sugiantara Putra berharap agar pemerintah bisa melonggarkan ruang gerak usaha foodtruck. “Ya kami pasti berharap pemerintah bisa memfasilitasi tempat agar kami bisa berjualan atau membuat event-event yang skalanya kecil saja. Kami juga sangat siap menerapkan protokol kesehatan setiap berjualan,” pungkasnya.

 

Sementara itu, Wakil Ketua Komunitas Foodtruck Bali, Agus Bayu Yudiadi mengatakan, di masa pandemi ini pebisnis harus bisa kreatif. Ia menganggap situasi sekarang ini sebagai restart ekonomi. Hampir semua sektor mengalami dampaknya, namun harus disikapi dengan tetap berusaha agar tetap survive.

 

“Istilah kami, Kepepet is Power. Kita harus kreatif, bila perlu kita bawakan pesanan konsumen ke rumahnya. Yang penting kita sama-sama bisa makan,” ungkap Agus yang juga Owner Warung Lawar Kambing Sumerta.

 

Diantara anggota komunitas, menurut Agus, saling membantu menjualkan produk masing-masing. Selain itu, beberapa anggota juga menjual produk hasil petani, seperti sayur mayur dan sembako. “Kami sebagai bagian dari UMKM, sangat yakin ke depan akan diperhatikan dan dimajukan oleh pemerintah,” harapnya.

 

Anggota Komunitas Foodtruck Bali yang juga Pemilik Sasti Group, Yudi Sedana juga merasakan dampak pandemi Covid-19 saat ini. Untuk menyikapinya, ia beralih menjual menu catering berupa nasi kotak yang ditawarkan ke perkantoran dan bank. “Para karyawan tidak boleh keluar untuk makan sehingga menu yang kami tawarkan menjadi pilihan. Ada sekitar 5 perusahaan dan bank yang berlangganan, dan sehari berkisar 50-100 box pesanan,” ungkapnya.

 

Ia berharap BUMN dan BUMD melalui program CSR-nya bisa membantu UMKM bidang kuliner sehingga pada akhirnya akan meningkatkan perputaran ekonomi di masyarakat. (dar).