JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI
Typography

DENPASAR - fajarbali.com | Tidak hanya mempengaruhi perekonomian di sektor pariwisata maupun perdagangan, dampak pandemi Covid-19 juga melanda industri media. Meski begitu, media diharapkan tidak sampai kehilangan nalar kreatif untuk berdamai dengan pandemi ini sehingga bisa eksis dan tetap menjadi rujukan informasi bagi kepentingan publik.

 

 

Poin tersebut disampaikan dalam diskusi Webinar yang digelar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wilayah Bali, baru-baru ini di Denpasar. Diskusi bertema “Strategi Media Lokal di Tengah Pandemi Covid-19” tersebut, menghadirkan narasumber Pemimpin Redaksi Tribun Bali, Sunarko dan Pemred Balipuspanews.com, Putu Artayasa dengan moderator Kepala Biro Harian Bisnis Indonesia Bali, Feri Kristianto.

 

Pemred Tribun Bali, Sunarko mengakui pendapatan media saat ini turun drastis dibandingkan situasi normal. Saat ini, pembuktian sebuah perusahaan dikatakan survival dilihat dari kemampuan untuk tetap bisa menjalankan kegiatan operasional seperti membayar gaji karyawan. Tentunya, hal ini menjadi tantangan bagi industri media yang terpukul dampak pandemi ini, karena arus cash flow dari sektor pariwisata mengalami penurunan besar-besaran.

 

“Istilahnya ya, nyawamu, darah itu ya uang yang tersedia ready, ini menjadi tantangan media bagaimana di satu sisi menghadapi tatanan baru atau new normal ini, dengan konsep jurnalistik di masa mendatang,” tandasnya.

 

Di sisi lain, media harus mampu memenuhi tuntutan kebutuhan operasional sehari-hari, sedangkan di sisi lain harus bersiap menjemput masa mendatang dan tuntutan yang berubah demikian cepat. Sunarko mengistilahkan, saat ini media harus mampu bermain layaknya beladiri Kungfu dengan jurus-jurus maut dan kreatifnya agar bisa bertahan.

 

Dia juga mengungkapkan, pandemi saat ini juga telah melahirkan fenomena baru di masyarakat yang diistilahkan sebagai “sindrom bosan, bingung dan panik”. Kondisi itu, tidak hanya terjadi di masyarakat namun juga lembaga termasuk media. Kondisi itu terjadi, karena tidak ada yang bisa memberi gambaran pasti kapan pandemi ini berakhir.

 

Senada dengan Sunarko, Pemred Balipuspanews.com, Artayasa juga mengungkapkan, bagaimana media siber yang dirintisnya itu, tetap bisa eksis dan tidak sampai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan. Meski harus melakukan efisiensi dan pengetatan anggaran namun masih bisa konsisten dalam mengawal kepentingan publik, dengan mempertahankan prinsip-prinsip jurnalistik dalam produk berita yang disajikan kepada publik.

 

“Selama ini, hidupnya media tergantung pendapatan dari iklan atau kerja sama lainnya, namun saat pandemi ini, praktis semua mitra bisnis yang sebagian besar bergerak di sektor pariwisata putus, tidak ada yang memasang iklan atau kerja sama,” katanya.

 

Meski demikian, pihaknya tetap berkarya dengan kreativitas termasuk memanfaatkan media sosial sehingga bisa tetap menjangkau segmen pembaca milenial hingga pengambil kebijakan. 

 

Sementara, Akademisi Universitas Udayana, Ni Made Ras Amanda Gelgel turut memberikan pandangannya bahwa situasi sulit yang dihadapi media saat ini tidak sampai melemahkan kreativitas media.

 

Dia mencontohkan, bagaimana media asing bisa bertahan, dengan mencari sumber-sumber pendanaan yang bagus dengan menawarkan konsep yang cukup baik yang bisa diterima negara maupun funding dunia seperti Google atau Facebook. “Bagaimana media mencari pendapatan tidak hanya dari pembacanya namun juga bisa dari pemasang iklan seperti Youtube,” katanya.

 

Banyaknya sumber pendanaan yang bisa dimanfaatkan media atau jurnalis di tengah pandemi Corona ini. Menurutnya, dengan pola kolaborasi konten, nyatanya bisa mendapatkan revenue yang cukup menolong khususnya bagi media lokal.

 

“Banyak penawaran dari funding asing yang bisa dimanfaatkan jika kita serius membuat proposal dari Google, Facebook, Internews dan lainnya. Bali, dari pengalaman saya isu-isunya selalu menarik sehingga banyak disetujui funding untuk beasiswa peliputan yang nilainya cukup lumayan membantu,” imbuhnya. (dar).