JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI
Typography

MANUPURA - fajarbali.com | Pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini sangat berdampak pada industri pariwisata di Bali yang kini sudah mati suri. Selain hotel dan restoran, toko-toko atau pasar oleh-oleh khas Bali juga terdampak sehingga sebagaian besar sudah ditutup dan merumahkan karyawannya.

 

 

Salah seorang pengelola toko oleh-oleh khas Bali di Kuta, Rianto mengatakan, tokonya telah tutup sejak 23 Maret lalu. Ia pun mengakui, seminggu sebelum tutup trafik kunjungan sudah menurun drastis hingga 90 persen, meski zegmen pasarnya adalah 70 persen lokal.

 

Dengan tutupnya toko oleh-oleh ini pihaknya terpaksa merumahkan sekitar 400 orang lebih karyawan dengan bantuan sembako untuk kelangsungan hidup mereka. “Di Bali, Industri pariwisata yang paling terpukul pertama. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi, selain menutupnya untuk sementara dan hal ini tentu sangat merugi,” katanya, Senin (4/5/2020).

 

Rianto menjelaskan, toko oleh-oleh ini bukan saja menyediakan oleh-oleh semata, namun juga terdapat tempat makan dan tempat wisata keluarga. Dikarenakan imbuan dari pemerintah untuk masyarakat tinggal di rumah serta memerhatikan kesehatan, sehingga toko pun ditutup.

 

Dia yang juga mengelola perusahaan manufaktur mengaku, untuk usaha di sektor pariwisata memang tidak bisa berkutik. "Berbeda halnya dengan usaha di bidang manufaktur yang bisa dialihkan, usaha di sektor pariwisata justru harus tutup," imbuhnya.

 

Diceritakannya, untuk usaha manufaktur, pihaknya memilih banting stir dengan memproduksi alat pelindung diri (ADP) serta masker yang sebelumnya memproduksi batik. “Kalau untuk sektor pariwisata memang tidak ada lagi yang bisa dilakukan atau mengarahkan ke usaha lain,” ujarnya.

 

Jika keadaan sudah pulih pun, ia mengaku harus ada promosi-promosi yang lebih gencar agar sektor pariwisata bisa segera bangkit. Seperti diskon pesawat, promo destinasi wisata dan sebagainya yang membantu menarik kunjungan kembali. (dar).