JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI
Typography

MANGUPURA - fajarbali.com | Sebagai salah tujuan pariwisata dunia, Bali khususnya Kuta tentu memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara maupun domestik untuk menghabiskan waktunya berlibur atau hanya sekedar membuat suatu event. Selain dikenal dengan keindahan pantainya, Kuta juga dikenal dengan pasar seninya.

 

 

Namun, dengan adanya pandemi Covid-19 ini, tentu hal tersebut sangat berdampak pada aktivitas wisatawan maupun geliat perekonomian disana. Seperti halnya Pasar Seni yang sudah ditutup membuat seribu lebih pedagang kehilangan mata pencahariannya.

 

Bendesa Adat Kuta, I Wayan Wasista mengaku, sejak 21 Maret lalu Pasar Seni Kuta sudah ditutup. Selain dikarenakan sepi pengunjung, larangan untuk berkumpul atau berada dalam keramaian sebagai upaya memutus rantai penyebaran Covid-19 menjadi alasan pasar seni yang menjual berbagai kerajinan dan produk khas Bali ini ditutup untuk sementara.

 

"Hal ini membuat sebagian besar mata pencaharian masyarakat di wilayah Desa Adat Kuta bergantung pada industri pariwisata hilang. Kondisi ini membuat masyarakat resah dalam memenuhi kebutuhan makan serta operasional sehari-hari,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, saat ini berbagai upaya pun mulai dipikirkan oleh segenap prajuru adat dalam menjaga kelangsungan hidup masyarakat, salah satunya melakukan penyaluran sembako kepada seluruh masyarakat Desa Adat Kuta. “Untuk membantu masyarakat yang terdampak, kami bekerja sama dengan LPD Desa Adat Kuta untuk menyalurkan sembako kepada seluruh masyarakat Kuta. Kami menyalurkan bantuan sebanyak 2.268 KK,” ungkapnya.

 

Pemberian bantuan ini diakui Wasista, dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, mengingat pandemi Covid-19 serta dampak yang ditimbulkan belum diketahui sampai kapan akan berakhir. “Masyarakat Kuta yang sangat bergantung pada sektor pariwisata tentu saat ini tidak ada pemasukan sehingga bantuan sangat dibutuhkan,” imbuhnya. (dar).