JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI
Typography

DENPASAR - fajarbali.com | Pandemi Covid-19 memang sangat berdampak pada pariwisata Bali, yang saat ini kedatangan wisatawan hampir nol. Hal ini tentu berpengaruh terhadap tingkat hunian hotel (okupansi), yang di Denpasar dengan wilayah andalan Sanur, tingkat hunian hotel di bawah 5 persen.

 

 

Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar Dezire Mulyani, mengatakan, tingkat hunian hotel di Kota Denpasar saat ini hanya 4 persen kurang. Diakuinya pariwisata saat ini memang mengalami terjun bebas yang menjadi situasi sangat sulit bagi pelaku pariwisata. “Khususnya pengusaha hotel sangat terpuruk, kalau restoran untuk lokal masih ada,” katanya.

 

Sekian persen hunian hotel yang masih tepenuhi ini menurutnya juga dikarenakan wisatawan yang tinggal lama di Bali, bukan wisatawan baru. Meski demikian, Dezire mengatakan, kondisi sangat dipahami oleh pelaku pariwisata, yang semua berharap kondisi ini segera berlalu. “Sekarang ini adalah tahap berempati, bagaimana bersama-sama menjaga kesehatan masyarakat,” jelasnya.

 

Ke depannya, jika situasi ini telah pulih kembali, Dezire mengatakan, tentu promosi-promosi akan kembali gencar dilakukan. Baik itu melalui penyelenggaraan festival dan sebagainya untuk mampu kembali menarik kunjungan wisatawan.

 

Sementara itu, pengamat pariwisata Ketut Marjana mengatakan, saat ini Bali berada pada kondisi yang sangat sulit akibat dampak merebaknya virus corona (covid-19). Ia juga menyampaikan, saat kondisi sulit pelaku pariwisata mesti tetap semangat menyiapkan strategic plan untuk siap bangkit setelah wabah corona mereda.

 

Diungkapkannya, imbas virus corona membuat pariwisata Bali lumpuh. Ini dikarenakan tidak ada wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan domestik (wisdom) berlibur ke Bali.

 

Ia menjelaskan, saat dalam kondisi sulit pelaku pariwisata di Bali mesti menghentikan semua kegiatan pariwisata. Semua mesti mengikuti imbauan pemerintah melakukan social distancing guna menangkal penyebaran covid-19.

 

Marjana memaparkan, ketika aktivitas pariwisata terhenti praktis tidak ada pemasukan dan karyawan mesti dirumahkan. “Karyawan yang bergerak di sektor pariwisata mesti memahami ketika perusahaan tidak beroperasi maka tidak ada pendapatan dan karyawan yang dirumahkan tidak digaji,” ucapnya.

 

Dalam kondisi sulit, pelaku pariwisata masih dibebankan biaya listrik, air, pajak, biaya BPJS, dan cicilan pinjaman. PHRI berharap pemerintah bisa memediasi pertemuan dengan bank, PLN, BPJS dan instansi perpajakan agar memberikan penundaan pembayaran kewajiban.

 

Dalam kondisi sulit tanpa penghasilan, menurut Marjana, sulit bagi pelaku usaha pariwisata untuk membayar kewajiban mereka. Setiap usaha pariwisata juga diawali dengan modal pinjaman. Pihak bank mesti memberikan kemudahan dalam bentuk keringanan dalam pembayaran angsuran kredit akibat dampak corona.

 

Ketut Marjana mengajak seluruh pelaku pariwisata introspeksi diri dan tidak menyerah menghadapi dampak corona. Walaupun dalam kondisi lesu, pelaku pariwisata mesti menyiapkan strategic plan baik dalam produk maupun paket wisata yang ditawarkan. “Strategic plan akan mendorong pelaku pariwisata siap menghadapi kondisi ke depan ketika corona telah mereda,” tegasnya. (dar).