EKONOMI
Typography

DENPASAR - fajarbali.com | Dewasa ini perekonomian dunia tengah mengalami resesi akibat merebaknya virus corona, begitu pula dengan perekonomian Bali yang sangat tergantung pada sektor pariwisata. Pengamat ekonomi, Prof. Gede Sri Darma, ST., MM.,DBA., mengatakan, corona virus (covid-19) yang menginfeksi di lebih 100 negara dan menjadi pandemic ini merupakan ancaman luar biasa bagi perekonomian global.

 

Prof. Sri Darma mengibaratkan dunia saat ini mengalami “Nyepi” dalam beberap bulan ke depan. Akibatnya, mereka yang terjun dalam dunia pariwisata, entertainment, dan sport akan stagnan. Untuk mengantisipasi hal tersebut peran pemerintah sangat diharapkan bisa memberikan talangan kepada perusahaan kecil yang terdampak covid-19 tersebut. Perusahaan besar harus menggunakan keuntungan sebelumnya untuk bisa menggaji karyawannya.

 

Jadi seharusnya karyawan tidak dirumahkan, apalagi karyawan merupakan aset dari perusahaan. “Untuk sementara, bolehlah meminjam laba itu untuk membayar karyawan. Karena sangat tidak elok kalau karyawan dirumahkan, di tengah tidak stabilnya perekonomian,” terang Prof. Sri Darma.

 

Dikatakan, pemerintah pusat dan daerah harus bersinergi, terutama agar tidak terjadi inflasi di Bali akibat kelangkaan produk kebutuhan pokok masyarakat. Jadi ketahanan pangan harus terjaga, meskipun Menteri Pertanian menyatakan cadangan  bahan pangan mencukupi.

 

Melihat kondisi tersebut, Prof. Sri Darma memprediksi inflasi akan tetap terjadi, karena pertumbuhan ekonomi rendah. Inflasi terjadi tergantung pada sumber-sumber makanan. Meskipun, cadangan pangan di Indonesia saat ini dinyatakan masih aman. “Sangat  bahaya adalah barang-barang impor yang kita lakukan selama ini dari beberapa negara yang terjangkit covid-19. Kalau terjadi kelangkaan otomatis harga makin tinggi yang akan memicu inflasi terjadi,” paparnya.

 

Oleh karena itu, untuk menjaga agar inflasi tidak terjadi, peran pemerintah sangat diharapkan. Terutama bagaimana mengawasi alurnya pangan agar tidak ada oknum yang mencari keuntungan untuk dirinya ataupun kelompoknya. Pemerintah daerah juga harus mampu mengecek harga-harga barang di pasaran agar tetap stabil.

 

Selain itu, daerah (kabupaten/kota) yang memiliki kekayaan lebih agar bisa memberikan bantuan kepada daerah yang miskin sehingga tidak terjadi kemiskinan yang luar biasa dan berdasarkan pada resesi yang sangat dahsyat. “Fundamental ekonomi Indonesia yang begitu bagus sebelumnya harus kita selamatkan dengan cara membantu mereka (daerah) yang kurang mampu, sehingga tercipta roda ekonomi yang berhenti sementara tetapi kesejahteran tetap dirasakan oleh masyarakat lebih baik,” tukasnya.

 

Direktur Undiknas Graduate School (UGS) ini memberi perumpamaan bila penyebaran virus corona ini terjadi hingga 6 bulan ke depan. Dampaknya, bisa terjadi hingga akhir 2020 yaitu paceklik wisatawan ke Indonesia.

 

Upaya pemerintah menarik wisatawan seperti memberikan bantuan kepada daerah tujuan wisata, memberlakukan promo penerbangan, dan tidak memungut PHR, dikatakan tidak akan berjalan maksimal. Di Indonesia 96 orang sudah diumumkan terinfeksi covid-19. Hal tersebut membuat masyarakat dalam maupun luar negeri enggan untuk berpergian.

 

“Event apa pun yang dirancang oleh Pemerintah Provinsi Bali, saya kira tidak akan efektif, karena tidak ada orang yang mau berani berpergian,” pungkasnya. (dar).