JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI
Typography

SEMARAPURA - fajarbali.com | Sejak Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan atau Destilasi Khas Bali diberlakukan, pembuat arak di Desa Besan, Kecamatan Dawan, Klungkung bisa tersenyum lega. Lantaran kini mereka bisa memasarkan menuman berbahan dasar nira tersebut dengan legal. Tanpa harus kucing-kucingan dengan petugas kepolisian. 

 


Nengah Puspawati, pembuat arak di Banjar Kanginan, Desa Besan, Kecamatan Dawan, Klungkung menuturkan, saat ini dirinya bisa memproduksi dan memasarkan arak buatanya dengan perasaan lebih tenang. Lantaran tidak lagi was-was dengan razia minuman keras (miras) yang kerap digelar aparat kepolisian. "Dulu kami selalu sembunyi-sembunyi kalau mau menjual, karena kalau tertangkap polisi kami bisa rugi," ujarnya Minggu (8/3/2020). 

Walau sudah dilegalkan, Puspawati yang ditemani suaminya, Wayan Lanus mengaku masih memiliki kendala. Yakni mengenai harga jual arak tradisional yang sangat murah. Biasanya, Puspawati menjual arak buatanya kepada tengkulak dengan harga rendah, hanya Rp8000 per botol untuk arak dengan kadar alkohol 15 persen. Sedangkan yang kadar alkoholnya 30 persen dijual dengan harga Rp20 Ribu per botol. Harga ini tentu tidak sebanding dengan proses pembuatan yang memakan waktu berhari-hari. Ditambah lagi Lanus, suaminya harus memanjat 15 pohon kelapa setiap hari untuk menurunkan nira. Dalam sepekan, ia maksimal hanya bisa membuat 18 botol arak dengan kadar alkohol 15 persen. 

Oleh karena itu, pasangan suami istri ini sangat berharap, pemerintah desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bisa mengambil alih penjualan arak. "Jika memungkinkan, dikordinir atau dibeli dari pihak Desa atau pemerintah bisa membantu kami dalam menaikan harga. Apalagi jika dijual di hotel atau restoran, " harap Puspawati.

Sementara Perbekel Desa Besan, I Ketut Yasa menyampaikan, meski tergerus kemajuan zaman, saat ini masih ada 17 KK di desanya yang bertahan dengan pembuatan arak tradisional. Bahkan, pembuatan arak ini digunakan sebagai tumpuan perekonomian. Pasca dilegalkam, Ketut Yasa pun memastikan jajaranya akan mengupayakan agar arak khas Besan bisa memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Caranya, tentu saja dengan menyetop penjualan kepada para tengkulak. Sebaliknya, kelak penjualan arak ini akan dikelola oleh BUMDes. 

"Ke depan, perangkat desa akan menampung hasil produksi industri rumah tangga masyarakat Desa Besan yakni arak Bali ini dan akan disalurkan melalui Bumdes ke restoran dan hotel di sekitar Bali," ungkapnya.

Wakil Bupati Klungkung, I Made Kasta juga memberi dukungan serupa. Wabup Kasta langsung terjun ke lokasi untuk memastikan jumlah pembuat arak di Desa Besan yang masih bertahan. Wabup Kasta mengharapkan kelak industri rumah tangga yang memperoduksi minuman fermentasi khas Bali dapat ditampung dan dipasarkan melalui BUMDes yang terdapat di Desa Besan. Wabup Kasta juga mengharapkan Pemkab Klungkung melalui dinas Terkait dan BPOM bisa mengontrol produksi minuman fermentasi khas Bali hasil dari industri rumah tangga yang berada di Desa Besan dan tempat lainnya Di Kabupaten Klungkung.

“Mudah-mudahan kedepannya dengan adanya Pergub tersebut, masyarakat Klungkung yang mengandalkan mata pencaharian melalui produksi minuman fermentasi Khas Bali, bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya," harap Wabup Kasta. (dia)