JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI
Typography

BANGLI - fajarbali.com | Dampak cuaca ekstrim telah menyebabkan serangan lalat buah kian mengganas. Kondisi ini menyebabkan petani di wilayah Kintamani, Kabupaten Bangli justru ketar-ketir ditengah meroketnya harga cabai saat ini. Pasalnya, serangan hama lalat buat tersebut telah menyebabkan produksi cabai jeblok hingga mencapai 50 persen lebih.

Hal ini dikemukakan sejumlah petani di wilayah Kintamani, Bangli. “Serangan lalat buah mulai ganas sejak sebulan terakhir. Kemungkinan karena pengaruh perubahan cuaca yang ekstrim,” ungkap Jro Suarta, salah seoarang petani di Kintamani. Kata dia, serangan lalat buah bactrocera papayae semaki ganas, pada saat memasuki musim penghujan. “Serangan lalat buah tidak hanya menyerang buah yang sudah masak. Bahkan yang masih muda pun banyak terserang,” jelasnya. Lebih parah lagi, lalat buah  tersebut tidak hanya menyerang cabai saja. Hampir seluruh tanaman buah-buahan juga turut diserang sehingga menyebabkan produksi pertanian jadi jeblok. “Kalau buah sudah terserang lalat buah, pastinya kondisi buah akan busuk dan rontok. Akibatnya, produksinya pasti menurun,” ungkapnya.

Hal yang sama juga disampaikan, Wayan Karta salah seoarang Petani Cabai di Yeh Mampeh, Batur, Kintamani. Disebutkan, serangan lalat buah pada tanamannya sudah terjadi sejak sebulan terakhir dan makin hari kian mengganas sehingga menghancurkan hampir semua tanaman buah dan cabai yang dia tanam.  “Buah yang terserang lalat ini, ciri-cirinya ada bintik-bintik hitam pada buah. Setelah itu, kondisi buah akan busuk dan bahkan rontok,” ungkap Karta.

Seperti halnya tanaman cabainya. Kata dia, buah cabai yang terserang lalat buah seketika menjadi busuk di pohon. “Ini yang menyebabkan produksi cabai saya, turun drastis karena lebih banyak yang busuk dan rontok,”keluhnya. Disebutkan, akibat serangan tersebut dari 20 are tanaman cabai yang dimiliki, hanya 45 persennya saja yang bisa dipanen.  Dikatakan Karta, kondisi ini sejatinya sudah rutin terjadi manakala peralihan musim. Hanya saja untuk tahun ini, diakui serangannya paling parah.

Kendati demikian pihaknya mengaku tak kapok menanam cabai lagi di waktu mendatang. Terlebih harga cabai saat ini melambung tinggi. Untuk saat ini harga cabai rawit di tingkat petani, lanjut Karta sudah mencapai Rp 100 hingga 105 ribu per kg. Diprediski hingga menjelang hari raya Galungan, kemungkinan akan kembali naik. “Kalau kondisi seperti sekarang ini kami akui masih tetap ada untung, tapi sedikit. Karena biaya produksi dan perawatannya juga tinggi. Apalagi produksinya menurun,” bebernya.

Kata dia, berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi serangan lalat buah itu. Salah satunya dengan menyemprotkan anti hama. “Hanya saja, cara itu juga tidak bisa bertahan lama. Setelah dua jam, serangan lalat buat kembali datang,” sesal Pria yang sudah menjadi petani cabai sejak tahun 1999 ini. Lebih lanjut, selain dengan penyemprotan, pihaknya juga mengaku sempat menggunakan lem lalat. Namun cara tersebut dinilai dilematis. Sebab, hama lain seperti kumbang dan sejenisnya yang membantu penyerbukan juga bisa ikut tertempel. Karena itu, pihaknya berharap perhatian dinas terkait untuk bisa membantu upaya penanggulangan serangan hama ini agar tidak terus merugikan petani. (arw).