JA Teline V - шаблон joomla Форекс

Cuaca Buruk, Harga Beras Naik

EKONOMI
Typography

Memasuki puncak musim hujan, harga beras di kalangan distributor mulai mengalami kenaikan. Penyebabnya hasil panen menurun. Selain itu, curah hujan yang tinggi juga mempengaruhi kualitas beras. Yakni berwarna kuning, sehingga tak laku di kalangan distributor.  Hal ini juga menjadi salah satu pemicu merangkaknya harga makanan pokok masyarakat ini. 

SEMARAPURA-fajarbali.com | Nyoman Surini salah seorang distributor beras di Pasar Semarapura mengungkapkan, kenaikan harga beras sudah terjadi sejak bulan lalu. Rata-rata harganya meningkat hingga Rp 1000 perkilogram. Ironisnya, tak hanya beras premium lokal yang mengalami kenaikan harga, beras dari luar Bali juga bernasib sama. 

Berdasarkan patokan harga hingga Kamis (11/1/2018) siang, harga beras premium lokal mencapai Rp 10.500 per kilogram. Sedangkan harga beras bermerek asal Banyuwangi mencapai Rp 11.500 per kilogram.

“Sebelumnya harga beras lokal berkisar Rp 9.500 per kilogram. Kalau beras merek Mama asal Banyuwangi sekitar Rp 10.500 per kilogram. Kenaikan harga ini disebabkan oleh berkurangnya pasokan,” ujarnya. 

Surini mengimbuhkan, cuaca buruk adalah penyebab utama berkurangnya produksi di kalangan petani. Di saat musim hujan seperti sekarang ini, biasanya banyak petani yang mengalami gagal panen. Di samping itu, kualitas gabah yang dihasilkan juga merosot. Yang mana setelah digiling, justru beras yang dihasilkan berwarna kuning. Sehingga pasokan beras kualitas premium menyusut. 

"Saya sempat membeli gabah di petani, biasanya berasnya bagus tapi sekarang warnanya kuning. Kalau berasnya kuning, harganya murah bisa sekitar Rp 7.000 per kilogram. Jadi kalau kondisi seperti ini, pembeli gabah yang berat,” paparnya kecewa. 

 

BACA JUGA: Beras Langka, Gabah Dijual ke Luar Bali

 

Harapan untuk mengisi stok dengan beras dari luar. Seperti dari Banyuwangi ataupun Lombok juga tidak bisa dilakukan. Lantaran saat ini, kondisi yang sama juga terjadi di kedua sentra beras tersebut. Diperparah lagi di Lombok dan Banyuwangi belum memasuki masa panen raya. “Di Lombok sekarang belum panen, di Banyuwangi juga belum panen. Jadi memang pasokan berasnya cukup terbatas,” imbuhnya sambil mengecek catatan berasnya. 

Dengan kondisi seperti ini, Surini mengatakan sangat berdampak pada penjualan. Banyak pembeli yang mengeluh. Di samping itu, jumlah penjualan beras juga menurun. Apalagi

dengan banyaknya warga Karangasem yang mengungsi, sehingga mereka tidak membeli beras lagi. "Basanya dari Karangasem juga beli beras ke sini. Sekarang karena banyak yang tinggal di pengungsian kan berasnya dari pemerintah, jadi penjualan saya menurun," ujarnya pasrah. 

Sementara Kadis Koperasi, UKM dan Perdagangan Klungkung, Wayan Ardiasa ketika dikonfirmasi mengatakan harga beras di Klungkung masih stabil. Ia menyontohkan, untuk harga beras C4 Super Mama harganya masih berkisar  Rp 12 ribu perkilogram. Sedangkan beras  IR64 atau beras lokal harganya Rp 11 ribu perkilogram. Pihaknya pun belum memiliki rencana untuk mengadakan operasi pasar murah. “Kalau untuk operasi pasar murah kita harus kordinasi dulu dengan tim pengendali inflasi daerah,” jelasnya. (dia)