EKONOMI
Typography
Denpasar-Fajarbali.com | Sektor pertanian dinilai akan menjadi kunci pemulihan ekonomi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara lantaran mampu menujukkan kinerja yang cukup positif di tengah melambatnya sejumlah sektor akibat pandemi. Pengamat ekonomi Rosmaya Hadi mengatakan, pangsa pertanian di wilayah Bali dan Nusa Tenggara secara rata-rata sebesar 20 persen dalam 10 tahun terakhir. Hal tersebut menunjukkan pangsa pertanian yang tercatat tertinggi dibandingkan 16 sektor lainnya.



Menurutnya, salah satu komoditas yang paling produktif dan memiliki pertumbuhan yang postif adalah komoditas perikanan berupa ikan tangkap maupun ikan budi daya seperti tuna, tongkol, udang segar, kepiting, maupun kerang, serta sejumlah ikan olahan.


"Hal ini sangat menggembirakan, dan perlu kita dukung mengingat potensi sektor perikanan sangat besar dan belum sepenuhnya optimal," ungkapnya, Senin (20/9).

Baca Juga: 
Wabup Patriana Inginkan Mahasiswa Ikut Organisasi
Penuhi Ketersediaan Stok Darah PMI Buleleng Maksimalkan Donor Darah di Komunitas

Pihaknya menuturkan bahwa saat ini sektor pertanian memiliki peranan dalam menyerap tenaga kerja dari sektor industri dan jasa yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi. Di Bali, 23 persen penduduk bekerja di sektor pertanian, sedangkan di NTB dan NTT, pekerja di sektor pertanian masing-masing sebesar 35 persen dan 54 persen.

"Pentingnya peranan lapangan usaha pertanian dalam ekonomi Balinusra juga tergambar dari penduduk yang bekerja di sektor pertanian," sebutnya.

Potensi sektor pertanian Bali dan Nusa Tenggara juga terlihat dari sisi ekspor. Pada 2020, ekspor komoditas pertanian dan kelautan Bali dan Nusa Tenggara memiliki pangsa 13,5 persen dari total ekspor Balinusra, menurun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 18,9 persen. Berbagai komoditas pertanian khususnya produk kelautan yang menjadi penopang ekspor Balinusra antara lain adalah kepiting, udang, ikan tuna, mutiara, dan rumput laut. Sedangkan komoditas pertanian lain adalah komoditas hortikultura yang antara lain adalah tanaman obat, buah-buahan, panili, kopi, dan kakao.

Meskipun demikian, diakui Hadi sektor pertanian memiliki sejumlah tantangan berupa dari sisi produksi, kelembagaan, hingga aspek pemasaran. Dari aspek faktor produksi, teknologi produksi masih rendah dengan kapasitas SDM yang terbatas sehingga produktivias dan nilai tambah pengolahan komoditas belum optimal.


Kedua, dari aspek kelembagaan, peran kelompok tani juga masih belum optimal baik dari hulu seperti pengawasan praktek bertani yang baik (Good Agriculture Practices) maupun sampai sisi hilir seperti implementasi korporatisasi petani untuk mencapai skala ekonomi, mendapat pembiayaan, dan pasar yang lebih pasti.


Terakhir, aspek pemasaran, adanya tantangan menuju perdagangan luar negeri yang mencakup hambatan tarif berupa pajak ekspor maupun non tarif seperti persyaratan maupun sertifikasi dan lain sebagainya yang dikenakan oleh negara pasar.

"Untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah pertanian, diperlukan transformasi pertanian ke arah digitalisasi pertanian. Penerapan digitalisasi pertanian di sisi hulu diharapkan akan mengubah cara bertani, perilaku petani, hingga cara penyediaan input, di sisi hilir akan memperluas cakupan pasar, efisiensi harga, hingga cara penjualan produk," pungkasnya. (car)