JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI
Typography
NEGARA- fajarbali.com | Kehidupan di pesisir, tak mungkin jauh dari nelayan. Salah satu potret kehidupan nelayan ada di Desa Pengambengan, Kecamatan Negara. Desa pesisir yang memiliki produksi ikan cukup besar dan terdapat sejumlah pabrik pengalengan ikan itu, tak terlepas dari dinamika bermata pencaharian di laut. Lebih-lebih lagi di Pengambengan juga tidak melupakan tradisi lama, selagi para lelaki melaut mencari tangkapan ikan lemuru , para ibu- ibunya atau istri nelayan tak mau kalah.

Meski tak melaut, mereka juga bekerja keras di pantai sebagai Pengalu atau perempuan pengumpul ikan-ikan di pinggiran. Rata rata perempuan yang terjun memilih bekerja sebagai pengalu berusia sekitar 50 tahunan. Mereka saat bekerja turun ke pantai harus memakai boreh di wajah. Boreh itu sebagai pelindung dari sengatan matahari. Agar terlindung dari terik matahari, biasanya mereka juga mengenakan topi lebar. 

Salah seorang pemerhati perikanan laut Jembrana, Eka Sabara Rabu (2/6/2021) mengatakan, para ibu-ibu yang bekerja sebagai pengalu harus bekerja dan beraktifitas untuk mendapatkan ikan lemuru di sela- sela perahu yang bersandar di tepi  muara Pengambengan Negara.

Baca Juga :
Bupati Giri Prasta Hadiri Pembukaan Bulan Bung Karno III tahun 2021 Provinsi Bali
Di Sawe, Enam Orang Digigit Anjing Rabies


"Di tengah kesibukan para panol-panol mengangkut ikan hasil tangkapan melaut dari bawah perahu dengan godong (wadah ikan) yang rata rata berisi 125 sampai dengan 130 kilogram. Mereka melakukan transaksi pembelian ikan lemuru yang baru tiba , dengan para penguras perahu dan nelayan," ujar Eka yang juga warga Pengambengan.

Mereka transaksi membeli ikan di bawah perahu yang baru sandar dengan harga yang telah disepakati. Harganya memang agak lebih murah, dikarenakan adanya kedekatan dengan pekerja perahu. 

Membeli ikan dibawah perahu dengan harga yang sudah disepakati, memang harga jauh lebih murah karna beberapa faktor kedekatan maupun faktor hubungan kerja dengan para penguras perahu, maupun para nelayannya. Namun kadangkalanya harga naik. Para pengalu banyak pasrah dan memahami pemodal besar akan menguasai pasar. Namun bagi mereka kata Eka, tetap semangat dan bekerja menjual ikan.

"Ibu-ibu pekerja pengalu tetap berharap mendapatkan harga jual di perahu yang lebih murah sehingga bisa menjual lebih tinggi," ujarnya. 


Selama ini para ibu-ibu pengalu belum pernah mendapat sentuhan modal dari pemerintah. Bila tak bekerja mencari dan menjual ikan dari perahu, diisi dengan membuat sudang yang merupakan jenis ikan lemuru kering. Sudang, biasanya dijual perbungkus seharga 6 ribu rupiah. (prm)