JA Teline V - шаблон joomla Форекс

EKONOMI
Typography
GIANYAR-fajarbali.com | Para pekerja olah sampah di TPA Temesi, Gianyar memiliki resiko tinggi disbanding supir angkut sampah. Kondisi ini menyulut kecemburuan antara pekerja oleh sampah dengan supir pekerja angkut sampah, mengingat gaji yang diterima pekerja olah sampah lebih sedikit dari para supir.

Perubahan sistem penggajian ini mengalami perubahan sejak bergantinya Kepala DLH. Dimana sistem gaji pegawai lapangan ini dirubah, dari sistem harian menjadi jam.

“Tepatnya, untuk satu jam, mereka dibayar Rp 12 ribu. Namun dalam penghitungan jam kerja ini, jam kerja sopir truk ini lebih banyak dari pekerja di TPA. Saya kira ini yang membedakan besaran,” jelas Made Mirnawati.

Dijelaskannya lagi, sopir truk sampah dihitung kerja tujuh setengah jam atau mendapat upah Rp 90 ribu per hari. Sementara operator alat berat TPA Temesi dihitung tujuh jam atau upah Rp 84 ribu per hari. Sementara, pengawas truk di TPA Temesi dihitung lima jam atau Rp 60 ribu per hari.

Baca Juga :
Program WFB Diharapkan Dapat Menyasar Seluruh Kabupaten di Bali
Distribusi 10.000 Vaksin Lintas Komunitas di Bali Raih Rekor MURI
 

Sedangkan, para pekerja di TPA ini rata-rata mereka sudah bekerja selama belasan tahun. Risiko yang mereka hadapi pun relatif tinggi. Sebab mereka berhadapan dengan gas metan dan senyawa dioksin. Dimana gas metan dapat menyebabkan penyakit paru-paru, ispa dan tensi tinggi. Sementara senyawa dioksin memicu terjadinya kanker.

“Kami tidak tahu kenapa bisa dibedakan seperti ini, kami tidak tahu, tapi harapan kami supaya disamakan,” ujar salah satu pekerja di TPA Temesi, Kamis (27/5/2021) kemarin. 

Bahkan disebutnya, para pekerja di TPA, sewaktu-waktu menghadapi kecelakaan kerja, seperti kondisi sampah labil, kena paku, pecahan kaca atau kebakaran.

“Sampah yang masuk belum terpilah, semua jadi satu, sehingga tidak bisa tahu ketika turun sampah apa,” jelas pekerja.

Dengan upah yang kecil ini, para pekerja di TPA Temesi juga harus mengeluarkan uang untuk membeli masker. Sebab pihak dinas tidak menyediakan hal itu. Namun untuk meminimalisir pengeluaran dana, para pekerja ini memilih menggunakan baju bekas untuk menutupi hidung dan mulutnya.

“Kami berharap juga disediakan masker, selop tangan, karena pekerjaan kami berisiko. Sebab gaji kami, hanya cukup untuk makan saja,” ujarnya. (sar)